5. Hati Mengalami Penumpukan Lemak
Diabetes tipe 2 juga berkaitan dengan meningkatnya risiko metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penyakit hati berlemak yang berhubungan dengan gangguan metabolisme.
Kondisi ini dapat terjadi akibat resistensi insulin yang mengganggu proses pengolahan gula dan lemak dalam tubuh. Akibatnya, lemak menumpuk di dalam sel-sel hati, bahkan pada orang yang tidak mengonsumsi alkohol.
Pada sebagian orang, perlemakan hati tidak menimbulkan gejala. Namun, jika berkembang, kondisi tersebut dapat memicu peradangan, jaringan parut, hingga kerusakan hati yang lebih serius.
Karena itu, kesehatan hati juga perlu diperhatikan dalam pengelolaan diabetes.
6. Otak Berisiko Mengalami Penurunan Fungsi Kognitif
Dampak diabetes tidak berhenti pada organ tubuh yang berkaitan langsung dengan metabolisme. Otak juga dapat terdampak, terutama akibat kerusakan pembuluh darah, peradangan, dan perubahan metabolisme yang berlangsung dalam jangka panjang.
Sejumlah penelitian mengaitkan diabetes dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Meski tidak berarti setiap penderita diabetes akan mengalami gangguan daya ingat, kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan otak melalui pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.
7. Lambung Mengalami Gangguan Pengosongan
Diabetes juga dapat memengaruhi sistem pencernaan, salah satunya melalui gastroparesis. Kondisi ini terjadi ketika lambung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengosongkan makanan ke usus halus.
Penyebabnya dapat berupa kerusakan saraf vagus yang berperan mengatur gerakan otot lambung.
Gejalanya meliputi cepat kenyang, mual, perut kembung, hingga muntah setelah makan. Gangguan ini juga dapat menyulitkan pengendalian gula darah karena penyerapan makanan menjadi tidak terprediksi.
Namun, gejala serupa juga bisa disebabkan oleh obat-obatan tertentu. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Pengelolaan Diabetes Tidak Cukup Hanya Memeriksa Gula Darah
Perlu diingat, Growthmates, berbagai komplikasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan diabetes tidak boleh hanya berfokus pada angka gula darah. Pemeriksaan mata, fungsi ginjal, kondisi kaki, tekanan darah, dan kolesterol juga menjadi bagian penting dari pemantauan kesehatan.
Kabar baiknya, tidak semua penderita diabetes akan mengalami seluruh komplikasi tersebut. Pengendalian gula darah, pengobatan yang tepat, pola hidup sehat, serta pemeriksaan rutin dapat membantu mencegah atau memperlambat kerusakan organ.
Karena beberapa komplikasi berkembang tanpa gejala yang jelas, penderita sebaiknya tidak menunggu hingga muncul rasa sakit atau gangguan penglihatan untuk memeriksakan diri.
Meski diabetes berkaitan dengan gangguan produksi atau kerja insulin, dampaknya dapat menjangkau hampir seluruh bagian tubuh. Itulah sebabnya menjaga kadar gula darah sekaligus memantau kesehatan organ lain menjadi langkah penting dalam perawatan diabetes jangka panjang.
Baca Juga: Stamina Menurun dan Mudah Lelah? Kenali Tanda Kekurangan Testosteron dan Diabetes