Growthmates, diabetes bukan sekadar penyakit yang berkaitan dengan pankreas dan kadar gula darah. Jika tidak terkontrol dengan baik dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak berbagai organ tubuh, mulai dari kaki, mata, ginjal, hingga otak.
Salah satu komplikasi yang sering tidak disadari adalah kerusakan saraf pada kaki. Penderita diabetes bisa mengalami luka akibat sepatu yang terlalu sempit, lecet, atau menginjak benda tajam tanpa merasakan sakit. Hal ini terjadi karena kerusakan saraf membuat sinyal rasa nyeri tidak tersampaikan dengan baik ke otak.
Masalahnya, kerusakan akibat diabetes sering berkembang secara perlahan dan tidak selalu menunjukkan gejala pada tahap awal. Karena itu, seseorang bisa saja mengalami gangguan pada organ tubuh tanpa menyadarinya.
Menurut studi ICMR-INDIAB yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology pada 2023, diperkirakan terdapat 101 juta penderita diabetes dan 136 juta orang dengan prediabetes di India. Data tersebut menunjukkan pentingnya pemahaman mengenai diabetes, termasuk berbagai komplikasi yang dapat menyertainya.
Dan, dikutip dari Times of India, Senin (2/11/2026), berikut 7 organ tubuh yang dapat terdampak ketika kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang.
1. Kaki Kehilangan Kemampuan Merasakan Nyeri
Kaki menjadi salah satu bagian tubuh yang rentan mengalami kerusakan saraf akibat diabetes atau dikenal sebagai neuropati perifer.
Kadar gula darah tinggi dalam waktu lama dapat merusak saraf sehingga muncul gejala seperti kesemutan, sensasi terbakar, hingga mati rasa pada jari kaki dan telapak kaki.
Akibatnya, penderita mungkin tidak menyadari adanya luka, lecet, atau cedera. Jika disertai sirkulasi darah yang buruk dan proses penyembuhan luka yang lambat, kondisi ini dapat berkembang menjadi infeksi serius.
Karena itu, pemeriksaan kaki secara rutin penting dilakukan oleh penderita diabetes, termasuk ketika tidak merasakan keluhan apa pun.
2. Mata Berisiko Mengalami Gangguan Penglihatan
Diabetes juga dapat merusak pembuluh darah kecil pada retina, yaitu jaringan peka cahaya di bagian belakang mata. Kondisi ini dikenal sebagai retinopati diabetik.
Kerusakan pembuluh darah dapat menyebabkan kebocoran, penyumbatan, hingga pertumbuhan pembuluh darah abnormal. Pada tahap awal, kondisi ini sering tidak menimbulkan gangguan penglihatan sehingga penderitanya mungkin tidak menyadari adanya masalah.
Jika semakin parah, retinopati diabetik dapat menyebabkan penglihatan kabur, munculnya bintik-bintik gelap, bahkan kebutaan.
Oleh sebab itu, pemeriksaan mata secara berkala tetap diperlukan meskipun penglihatan masih terasa normal.
3. Ginjal Mengalami Penurunan Fungsi
Ginjal bertugas menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah. Namun, kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal.
Salah satu tanda awal kerusakan adalah munculnya albumin, yaitu protein dalam urine yang seharusnya tertahan oleh ginjal yang sehat.
Jika terus berkembang, kondisi ini dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.
Masalahnya, kerusakan ginjal sering tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal. Karena itu, penderita diabetes perlu menjalani pemeriksaan fungsi ginjal melalui tes darah dan urine secara rutin.
4. Jantung Berisiko Mengalami Penyakit Kardiovaskular
Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penumpukan lemak pada arteri.
Jika aliran darah menuju jantung atau otak terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah, risiko serangan jantung dan stroke pun meningkat.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dewasa dengan diabetes memiliki risiko sekitar dua kali lebih besar mengalami penyakit jantung atau stroke dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.
Selain menjaga kadar gula darah, penderita juga perlu memantau tekanan darah dan kolesterol. Ketiganya berkaitan erat dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Baca Juga: Cara Mencegah Prediabetes Menurut Dokter Ahli, Rutin Latihan Beban Jadi Kunci
5. Hati Mengalami Penumpukan Lemak
Diabetes tipe 2 juga berkaitan dengan meningkatnya risiko metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penyakit hati berlemak yang berhubungan dengan gangguan metabolisme.
Kondisi ini dapat terjadi akibat resistensi insulin yang mengganggu proses pengolahan gula dan lemak dalam tubuh. Akibatnya, lemak menumpuk di dalam sel-sel hati, bahkan pada orang yang tidak mengonsumsi alkohol.
Pada sebagian orang, perlemakan hati tidak menimbulkan gejala. Namun, jika berkembang, kondisi tersebut dapat memicu peradangan, jaringan parut, hingga kerusakan hati yang lebih serius.
Karena itu, kesehatan hati juga perlu diperhatikan dalam pengelolaan diabetes.
6. Otak Berisiko Mengalami Penurunan Fungsi Kognitif
Dampak diabetes tidak berhenti pada organ tubuh yang berkaitan langsung dengan metabolisme. Otak juga dapat terdampak, terutama akibat kerusakan pembuluh darah, peradangan, dan perubahan metabolisme yang berlangsung dalam jangka panjang.
Sejumlah penelitian mengaitkan diabetes dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Meski tidak berarti setiap penderita diabetes akan mengalami gangguan daya ingat, kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan otak melalui pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.
7. Lambung Mengalami Gangguan Pengosongan
Diabetes juga dapat memengaruhi sistem pencernaan, salah satunya melalui gastroparesis. Kondisi ini terjadi ketika lambung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengosongkan makanan ke usus halus.
Penyebabnya dapat berupa kerusakan saraf vagus yang berperan mengatur gerakan otot lambung.
Gejalanya meliputi cepat kenyang, mual, perut kembung, hingga muntah setelah makan. Gangguan ini juga dapat menyulitkan pengendalian gula darah karena penyerapan makanan menjadi tidak terprediksi.
Namun, gejala serupa juga bisa disebabkan oleh obat-obatan tertentu. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Pengelolaan Diabetes Tidak Cukup Hanya Memeriksa Gula Darah
Perlu diingat, Growthmates, berbagai komplikasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan diabetes tidak boleh hanya berfokus pada angka gula darah. Pemeriksaan mata, fungsi ginjal, kondisi kaki, tekanan darah, dan kolesterol juga menjadi bagian penting dari pemantauan kesehatan.
Kabar baiknya, tidak semua penderita diabetes akan mengalami seluruh komplikasi tersebut. Pengendalian gula darah, pengobatan yang tepat, pola hidup sehat, serta pemeriksaan rutin dapat membantu mencegah atau memperlambat kerusakan organ.
Karena beberapa komplikasi berkembang tanpa gejala yang jelas, penderita sebaiknya tidak menunggu hingga muncul rasa sakit atau gangguan penglihatan untuk memeriksakan diri.
Meski diabetes berkaitan dengan gangguan produksi atau kerja insulin, dampaknya dapat menjangkau hampir seluruh bagian tubuh. Itulah sebabnya menjaga kadar gula darah sekaligus memantau kesehatan organ lain menjadi langkah penting dalam perawatan diabetes jangka panjang.
Baca Juga: Stamina Menurun dan Mudah Lelah? Kenali Tanda Kekurangan Testosteron dan Diabetes