Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengumumkan defisit Anggapan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Mei 2026 terjaga di level 0,70% atau Rp180,4 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendapatan negara lebih kecil daripada belanja negara hingga Mei 2026.

Purbaya mengungkapkan, total pendapatan negara tumbuh 19,1% mencapai Rp1.185 triliun per Mei 2026. Pada waktu yang sama, realiasi belanja negara meningkat 34,4% mencapai Rp1.365,4 triliun.

"Defisit ABPN bisa dikendalikan karena pajak dan bea cukai ada perbaikan signifikan," tegas Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga: Pengakuan Purbaya Soal Kabar Mundur dari Jabatan Menteri Keuangan

Menjadi kontributor pendapatan terbesar, penerimaan pajak mengalami lonjakan signifikan hingga 22,1% menjadi Rp834,4 triliun per Mei 2026. Pertumbuhan pendapatan tersebut juga dikontribusikan oleh penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang naik 19,9% menjadi Rp226,4 triliun serta kepabeanan dan cukai yang naik 0,7% menjadi Rp123,8 triliun.

"Tahun lalu di bulan yang sama itu penerimaan pajak negatif 11,3%, cukai positif, dan PNBP negatif 33,2%. Jadi ada perbaikan yang signifikan dari kondisi tahun lalu," tambah Purbaya.

Sementara itu, belanja negara mengalami kenaikan dengan kontribusi dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun dan transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp306,1 triliun. Dengan kondisi tersebut, Purbaya mengklaim bahwa pengelolaan keuangan negara dijalankan cermat untuk memastikan kondisi fiskal dalam kondisi baik.

"Jangan dibilang ugal-ugalan atau Purbaya membuat anggaran yang kacau sehingga mengganggu stabilitas nilai tukar, saya agak bingung darimana? Dari sini bagus semua. Pajaknya naik, defisitnya terjaga. Jadi kondisi fiskal amat baik," tegasnya lagi.