Mengapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Mencapai Jabodetabek?
Sementara itu, mengenai abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dapat terbawa hingga wilayah Jabodetabek dan Bandung, Prof. Agus menjelaskan bahwa pola angin menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah penyebaran material erupsi.
Secara normal, pada Juli hingga September, pola angin musim timur cenderung membawa material erupsi Anak Krakatau ke arah barat, menuju wilayah Sumatera atau Lampung.
Namun, sebagian abu vulkanik berukuran sangat halus dapat mengalami perubahan arah dan terbawa menuju Pulau Jawa.
Kondisi tersebut dipengaruhi adanya titik konvergensi atau pertemuan berbagai massa udara, antara lain angin monsun, angin dari selatan, dan angin dari Laut Jawa di sekitar bagian tengah-utara Selat Sunda.
Pertemuan massa udara tersebut dapat menyebabkan pembelokan arah angin sehingga abu vulkanik berukuran halus berpotensi bergerak menuju wilayah Jawa, termasuk Jabodetabek dan Bandung.
“Jika aktivitas erupsi terus berlangsung, pola sebaran abu diperkirakan masih dapat mengalami pembelokan ke arah Jawa, terutama menjelang masa pergantian musim pada November hingga Februari,” tambah Prof. Agus.
Teknologi Akustik untuk Memantau Sebaran Abu
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana material vulkanik menyebar dan memengaruhi lingkungan laut, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Henry Munandar Manik, memperkenalkan penggunaan teknologi akustik untuk eksplorasi sumber daya dan lingkungan lautan.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk memetakan distribusi abu vulkanik secara vertikal maupun horizontal di dalam kolom air.
Selain itu, teknologi ini dapat membantu mengetahui waktu yang dibutuhkan material vulkanik untuk mengendap atau settling time, sekaligus memantau kondisi ekosistem laut setelah erupsi.
“Pemantauan juga akan mencakup tutupan terumbu karang dan lamun serta potensi bioakumulasi material tertentu pada organisme laut,” Prof. Henry.