Selain data dari Indonesia, simposium juga menghadirkan pengalaman klinis dari Korea Selatan. Prof. Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menjelaskan perkembangan penggunaan P-CAB di negara tersebut.

“Di Korea Selatan, terapi P-CAB telah digunakan secara bertahap sehingga pengalaman klinis penggunaannya terus bertambah. Dalam studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1% pada minggu ke-8, yang menunjukkan efektivitas klinis yang kuat,” jelas Prof. Ahn.

Sementara itu, Prof. Ji Won Kim, M.D., President Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor, Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Seoul National University College of Medicine, SMG-SNU Boramae Medical Center, yang bertindak sebagai Co-Chair dari Korea Selatan, mengatakan peluncuran fexuprazan di Indonesia menjadi bagian dari perkembangan terapi GERD.

“Peluncuran resmi fexuprazan di Indonesia menjadi momentum yang sangat berarti. Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia,” kata Prof. Ji Won Kim.

Dari sisi industri, Daewoong menilai peluncuran fexuprazan bukan hanya berkaitan dengan kehadiran produk baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi dan pertukaran pengetahuan di bidang gastroenterologi.

Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan fexuprazan hadir untuk menjawab kebutuhan dalam pengelolaan GERD, khususnya kondisi yang berkaitan dengan esofagitis erosif.

“Bagi Daewoong Pharmaceutical Indonesia, kehadiran inovasi ini di bidang gastroenterologi memperkenalkan sebuah produk yang ikut dalam perkembangan ilmu pengetahuan, yang mana juga menjawab kebutuhan yang ada dalam pengelolaan atau pengobatan erosif esofagitis,” ujar dr. Wicak.

Menurutnya, esofagitis erosif membutuhkan pengendalian asam yang efektif dan penanganan yang tepat. Kehadiran pendekatan P-CAB diharapkan dapat menambah pilihan dalam pengelolaan pasien.

“Erosif esofagitis itu sendiri merupakan kondisi yang penting dan perlu mendapatkan perhatian karena membutuhkan kontrol asam yang efektif dan penanganan yang tepat juga. Selain dengan perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi dan pilihan dalam terapi, hadirnya pendekatan baru seperti P-CAB ini memberikan alternatif yang baru dan bagus bagi pasien dalam hal acid suppression,” katanya.

dr. Wicak menambahkan, Daewoong juga berharap kehadiran fexuprazan dapat berkontribusi terhadap pengembangan tata laksana GERD di Indonesia melalui dukungan bukti klinis serta pertukaran pengetahuan antara tenaga kesehatan Indonesia dan Korea Selatan.

“Dengan kehadiran fexuprazan ini di Indonesia, kami mengharapkan itu menjadi satu bagian dari perkembangan teknologi yang menghadirkan inovasi yang didukung oleh clinical evidence dan clinical practice di Indonesia. Momentum ini kami harapkan juga menjadi suatu momentum pertukaran ilmu pengetahuan bagi para ekspert dari Korea dan Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengenalan fexuprazan di Indonesia diharapkan tidak berhenti pada peluncuran produk, tetapi juga mendorong edukasi mengenai GERD dan penggunaan terapi yang berbasis bukti.

“Kami mengharapkan momentum ini tidak hanya berhenti sebagai pengenalan suatu produk baru, mendorong bagaimana penanganan yang lebih baik dalam hal erosif esofagitis, dikembangkan di kalangan masyarakat maupun healthcare professional. Dan kami percaya dari IDDW bahwa inovasi di bidang kesehatan akan selalu berjalan melalui edukasi yang akurat, evidence-based medicine, dan bertanggung jawab,” tutur dr. Wicak.

Dengan peluncuran tersebut, fexuprazan menambah pilihan terapi berbasis P-CAB yang tersedia bagi pasien GERD di Indonesia. Kehadiran data dari penelitian pasien Indonesia, pengalaman klinis dari Korea Selatan, serta diskusi antara para ahli dalam rangkaian IDDW 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mengenai strategi penanganan GERD dan esofagitis erosif.

Baca Juga: Kolaborasi Daewoong dengan Ikatan Apoteker Indonesia Perkuat Aliansi Kerja Sama Korea Selatan-Indonesia