Pamela juga menyarankan, penerapan self-control dengan membedakan hal-hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan.

“Kita harus menyadari batasan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang berada di luar kendali kita. Fokus pada peran dan tanggung jawab yang bisa dijalankan akan membantu menjaga semangat dan rasa optimisme,” ucapnya.

Tak hanya itu, lanjut Pamela, daripada terus memikirkan persoalan yang tidak dapat diubah secara langsung, perhatian dapat dialihkan pada pekerjaan, keluarga, kesehatan, hubungan sosial, serta kontribusi yang bisa dilakukan di lingkungan sekitar.

Dukungan orang terdekat juga penting bagi mereka yang mengalami kecemasan. Pamela, yang juga staf pengajar di Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, menekankan pentingnya menjadi pendengar tanpa menghakimi.

“Sadari, mungkin mereka butuh didengarkan dan dipahami tanpa diberikan penilaian atau non-judgemental atas keresahan-keresahan yang muncul akibat banjirnya berita negatif yang diterima,” ujarnya.

Namun, sebelum membantu orang lain, seseorang perlu memastikan kondisi mentalnya sendiri. Jika merasa tidak siap, bantuan dapat dialihkan kepada tenaga profesional.

“Sebelum membantu, kita harus aware terhadap kondisi mental kita terlebih dahulu. Jika dirasa tidak siap maka hubungkan dengan profesional seperti psikolog, psikiater atau konselor,” tambahnya.

Pamela menilai, institusi pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan psikologis generasi muda melalui literasi digital dan kesehatan mental. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan mengenali informasi kredibel, memahami dampak konsumsi media, dan mengetahui kapan membutuhkan bantuan.

Komunitas juga dapat membantu menciptakan ekosistem informasi yang sehat dengan memverifikasi informasi, membagikan konten yang berimbang, serta membangun ruang interaksi yang penuh empati dan solidaritas.

“Melalui kerja kolektif, komunitas dapat berkontribusi dalam memverifikasi keakuratan informasi yang beredar, menyebarkan konten yang berimbang antara berita positif dan negatif, serta menumbuhkan empati dan solidaritas antaranggota masyarakat,” pungkasnya.

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Psikologis Sering Nonton IG Stories Sendiri Berulang-ulang