Growthmates, memiliki penghasilan yang tidak tetap menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pekerja lepas atau freelancer dalam mengelola keuangan.Berbeda dengan karyawan yang menerima gaji secara rutin setiap bulan, freelancer harus mampu mengatur pemasukan yang jumlah dan waktunya tidak selalu dapat diprediksi.

Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto, mengatakan, hal pertama yang perlu dilakukan freelancer adalah mengetahui secara pasti berapa kebutuhan pengeluaran minimum setiap bulan.

“Yang pertama harus kita kunci adalah pengeluaran bulanan kita berapa, untuk minimum bisa hidup,” ungkap Ligwina, sebagaimana Olenka kutip dari podcast YouTube @roryasyari @room.4improvement, Kamis (16/7/2026).

Menurut Ligwina freelancer tidak seharusnya mengikuti pola pemasukan yang naik turun.Misalnya, seseorang memiliki kebutuhan hidup Rp5 juta per bulan, tetapi penghasilannya bisa berbeda-beda setiap bulan, seperti Rp5 juta pada bulan ini, Rp2 juta pada bulan berikutnya, dan Rp15 juta pada bulan setelahnya.

“Kalau freelance itu misalnya pengeluaran bulanannya Rp5 juta sebulan, bulan ini terima job Rp5 juta, bulan depan sisa Rp2 juta, bulan depannya lagi Rp15 juta. Jangan ngikutin gelondongannya, tapi kunci berapa pengeluaran kita,” jelasnya.

Alih-alih langsung menggunakan seluruh pendapatan ketika mendapatkan proyek besar, freelancer perlu menyisihkan uang terlebih dahulu untuk memastikan kebutuhan bulan berikutnya tetap terpenuhi.

“Ketika terima job, yang kita lakukan adalah simpan dulu untuk hidup bulan depan. Jadi cara orang kerja freelance itu harus beda sama orang yang karyawan,” kata Ligwina.

Ligwina pun menjelaskan, perbedaan mendasar antara karyawan dan freelancer terletak pada kepastian pemasukan. Karyawan memiliki perusahaan yang secara rutin memberikan gaji setiap bulan.Sementara itu, freelancer harus menciptakan mekanisme sendiri agar tetap memiliki uang untuk kebutuhan hidup meski tidak mendapatkan pekerjaan.

“Kalau karyawan kan garansi dapat gaji tiap bulan, kalau freelance berarti dia harus menggaransi gaji bulan depannya sendiri,” ujar Ligwina.

Karena itu, kata dia, selain memiliki dana darurat, freelancer disarankan mempunyai apa yang disebut Ligwina sebagai ‘dana plus one’.

“Berarti dia harus punya selain dana darurat, aku menyebutnya dana plus one. Dana plus one itu misalnya pengeluaran Rp5 juta sebulan, dia di rekening punya minimum saldo Rp5 juta,” jelasnya.

Dana plus one pada dasarnya berfungsi sebagai bantalan untuk memastikan kebutuhan hidup satu bulan ke depan tetap aman, terutama ketika pemasukan sedang lebih kecil atau bahkan tidak ada.

Lebih lanjut, Ligwina memberikan gambaran sederhana. Jika kebutuhan hidup seorang freelancer mencapai Rp5 juta per bulan, maka ia perlu menjaga saldo minimum sebesar Rp5 juta di rekening sebagai dana plus one.

Misalnya, pada bulan tertentu freelancer hanya mendapatkan pemasukan Rp3 juta. Kekurangan Rp2 juta dapat ditutup menggunakan dana plus one.

“Tapi berarti kalau bulan berikutnya terima job Rp15 juta, nggak boleh dipakai semua. Dia harus mengisi lagi minimum saldo dia untuk bisa dipakai bulan depan,” kata Ligwina.

Dengan mekanisme tersebut, kata dia, freelancer tidak langsung merasa memiliki uang Rp15 juta yang bisa dibelanjakan seluruhnya. Sebagian harus dialokasikan terlebih dahulu untuk mengembalikan saldo dana plus one ke batas minimum.

Setelah kebutuhan satu bulan berikutnya diamankan, kelebihan pemasukan dapat dialokasikan untuk tujuan keuangan lainnya, termasuk membangun dana darurat.

“Dan uang yang Rp10 juta disimpan untuk jadi dana daruratnya,” ujar Ligwina.

Baca Juga: Kunci Reputasi dan Keuangan yang Perlu Disiapkan Freelancer Menurut Financial Planner

Kemudian, Ligwina pun menekankan bahwa dana plus one dan dana darurat memiliki fungsi yang berbeda.

Dana plus one digunakan untuk menjamin kebutuhan hidup satu bulan ke depan ketika pemasukan tidak mencukupi, sedangkan dana darurat berfungsi sebagai perlindungan untuk kondisi darurat yang lebih besar.

Karena itu, pengelolaan keuangan freelancer perlu dilakukan secara berlapis.

“Jadi harus berlapis-lapis. Berlapis-lapis kalau kerjanya freelance,” tegasnya.

Konsep tersebut tidak hanya berlaku bagi freelancer. Menurut Ligwina, pemilik bisnis kecil juga menghadapi tantangan serupa karena pemasukan bisnis sering kali tidak stabil dan uang yang masuk kerap langsung digunakan untuk berbagai kebutuhan.

“Gak hanya untuk yang freelance ya, juga untuk pemilik bisnis yang kecil size bisnisnya,” katanya.

Ia pun menilai, pemilik usaha kecil juga perlu memiliki ‘napas’ keuangan yang cukup agar kebutuhan pribadi tetap dapat dipenuhi meski pemasukan usaha sedang tidak besar.

“Yang kayak gini juga harus punya berlapis napas buatannya untuk memastikan dia punya untuk hidup bulan depan,” ujar Ligwina.

Lantas, berapa jumlah dana plus one yang ideal? Ligwina menyebut, jumlahnya cukup satu kali pengeluaran bulanan. Artinya, jika kebutuhan minimum untuk hidup mencapai Rp5 juta per bulan, maka saldo minimum dana plus one yang perlu tersedia adalah Rp5 juta.

“Satu kali pengeluaran bulanan,” kata Ligwina.

Menurutnya, jumlah tersebut menjadi batas minimum yang perlu dijaga freelancer. Ketika pemasukan sedang besar, bukan berarti seluruh uang tersebut boleh langsung digunakan.

“Apa yang kita dapat bulan ini kita harus persiapkan untuk pengeluaran bulan depan, just in case nggak ada pekerjaan masuk,” jelasnya.

Semakin besar cadangan yang dimiliki, tentu semakin tenang kondisi keuangan seseorang. Namun, Ligwina menegaskan bahwa dana plus one tidak perlu dibuat terlalu besar karena fungsinya berbeda dengan dana darurat.

“Semakin besar, semakin tenang dia hidupnya. Tapi kan itu kita jadi dana darurat aja ya, jadi nggak usah gede-gede yang si dana plus one itu cukup satu kali aja,” pungkas Ligwina.

Baca Juga: Freelancer Sulit Menabung Dana Pensiun? Ini Tips dari Financial Trainer