Growthmates, belakangan ini, media sosial ramai dengan berbagai konten yang menyebut tahun 2026 sebagai ‘kesempatan terakhir’ untuk menjadi miliuner.

Narasi tersebut biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan peluang membeli aset saat harganya sedang turun.

Namun, menurut Independent Financial Consultant, Nadia Harsya CFP®, anggapan tersebut tidak bisa dipukul rata. Peluang menjadi kaya memang ada, tetapi sangat bergantung pada kondisi finansial dan posisi ekonomi masing-masing individu.

"Kondisi ekonomi setiap orang sangat dipengaruhi oleh posisi kelas sosialnya. Ada kelompok yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada yang hidup cukup nyaman dan stabil karena punya income. Namun sekarang, banyak yang mulai merasakan tekanan ekonomi dan bahkan berisiko turun kelas," terang Nadia, sebagaimana Olenka kutip dari Podcast I Could Relate di YouTube channel Samanta Elsener, Selasa (30/6/2026).

Menurut Nadia, secara sederhana masyarakat dapat dibagi menjadi tiga kelompok ekonomi. Kelompok pertama adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Kemudian, kelompok kedua merupakan kelas menengah yang sebelumnya hidup relatif nyaman karena memiliki pekerjaan tetap atau usaha, tetapi kini mulai tertekan akibat kondisi ekonomi. Sementara, kelompok ketiga adalah mereka yang telah memiliki modal atau kapital yang cukup besar.

"Nah sebenarnya, yang dibilang punya potensi untuk jadi kaya adalah ketika orang-orang yang sudah punya kapital, ada di posisi atas," kata Nadia.

Nadia menuturkan bahwa situasi ekonomi yang penuh tekanan justru membuka peluang bagi pemilik modal. Ketika banyak orang membutuhkan dana cepat, berbagai aset mulai dijual dengan harga lebih rendah dibandingkan nilai wajarnya.

"Orang yang punya kapital, mereka punya kesempatan sekarang untuk bisa beli aset dengan harga murah. Banyak orang butuh uang akhirnya jual properti. Banyak orang butuh uang akhirnya jual bisnisnya. Saham juga banyak yang rontok. Ketika mereka punya kapital, mereka punya uang dingin, itu kesempatannya mereka," jelasnya.

Karena itu, Nadia menilai, pernyataan bahwa krisis bisa melahirkan orang-orang kaya memang ada benarnya, tetapi harus dilihat dalam konteks yang tepat.

"Jadi bisa benar, kamu punya potensi jadi orang kaya dalam krisis ini. Tapi lagi-lagi, kamu ada di kelas yang mana," tegasnya.

Baca Juga: Freelancer Sulit Menabung Dana Pensiun? Ini Tips dari Financial Trainer

Nah, bagi masyarakat yang belum memiliki modal besar, Nadia menyarankan agar mulai memperkuat kondisi keuangan dengan menyiapkan dana tunai atau cash reserve. Tujuannya, agar ketika peluang investasi datang, mereka memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya.

"Kalau memang kamu punya kemampuan, tahan diri sedikit, biar punya cash, biar nanti punya kesempatan untuk beli aset murah," ujarnya.

Menurut Nadia, memiliki dana menganggur bukan berarti membiarkan uang tidak berkembang, melainkan mempersiapkan likuiditas untuk mengambil peluang ketika harga aset berada di level menarik.

Di sisi lain, Nadia melihat kesadaran masyarakat untuk belajar investasi terus meningkat. Pengalaman tersebut ia rasakan saat menjadi pembicara dalam sebuah acara edukasi investasi syariah yang dihadiri peserta dari berbagai latar belakang.

"Aku senang karena sempat datang di acara investasi syariah. Ternyata banyak banget yang datang dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan yang background-nya dari pesantren sekarang mau belajar saham. Seru banget," ungkapnya.

Dikatakan Nadia, tidak hanya kalangan muda, masyarakat berusia di atas 50 tahun pun mulai tertarik memahami investasi.

"Ada juga ibu-ibu yang sudah lima puluhan. Masih semangat dan sempat tanya ke aku, 'Masih relevan nggak sih kita beli saham?'"

Menjawab pertanyaan tersebut, Nadia menegaskan bahwa investasi saham tetap relevan selama dilakukan dengan pemahaman yang baik dan disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

"Kalau aku jawabnya, sebenarnya relevan-relevan saja. Karena kondisi seperti ini kan tidak selamanya. Kalau kita lihat dari grafik saham, pasti ada siklusnya," tutup Nadia.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Siapa Sebenarnya Generasi Sandwich, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda