Membaca label gizi menjadi salah satu langkah penting bagi orang tua dalam memilih produk pangan untuk keluarga. Namun, memahami kandungan suatu produk tidak cukup hanya dengan melihat satu bahan atau jumlah gula yang tercantum. Setiap bahan memiliki fungsi berbeda yang dapat memengaruhi karakteristik, tekstur, hingga kandungan gizi produk secara keseluruhan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam talk show pangan yang digelar Universitas Pelita Harapan (UPH) bersama Danone Indonesia di Hope Building, Ground Floor, Kampus UPH, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik; Julia R. Wijaya, Ph.D., dosen Teknologi Pangan UPH; serta Natania, STP, M.Eng., dosen sekaligus Kepala Laboratorium Pengendalian Mutu dan Penelitian UPH. Ketiganya membahas pentingnya memahami informasi gizi, fungsi bahan pangan, serta cara menilai produk secara lebih menyeluruh.
Dalam sesi bertajuk “Dampak Nutrisi terhadap Kesehatan: Memahami Karbohidrat, Gula, dan Apa yang Ada di Dalam Makanan Kita”, dr. Diana Sunardi mengingatkan bahwa orang tua perlu membiasakan diri membaca label pangan sebelum menentukan pilihan nutrisi bagi keluarga, terutama untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Danone Indonesia Dorong Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak di Pesantren
Menurutnya, menilai suatu produk hanya dari satu bahan tertentu dapat membuat konsumen kehilangan gambaran utuh mengenai kandungan dan fungsi produk tersebut. Pasalnya, berbagai bahan yang dikombinasikan dalam satu formulasi dapat menghasilkan karakteristik yang berbeda dibandingkan ketika bahan-bahan itu digunakan secara terpisah.
“Dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, khususnya pada masa pertumbuhan anak, penting bagi orang tua untuk memahami informasi pada label pangan secara menyeluruh dan tidak berfokus hanya pada satu bahan tertentu,” jelas dr. Diana.
Ia menambahkan, evaluasi produk pangan sebaiknya mempertimbangkan komposisi, nilai gizi, porsi konsumsi, serta perannya dalam pola makan sehari-hari. Dengan begitu, konsumen dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih lengkap, bukan sekadar terpaku pada satu komponen yang tercantum pada kemasan.
Karbohidrat, misalnya, merupakan zat gizi makro yang menjadi sumber energi utama bagi tubuh. Namun, karbohidrat memiliki beragam jenis dengan karakteristik dan fungsi yang berbeda, baik dalam proses metabolisme maupun dalam formulasi produk pangan.
Pemahaman mengenai perbedaan fungsi bahan tersebut kemudian diperdalam oleh Julia R. Wijaya dalam sesi “Ilmu di Balik Gula, Pemanis, dan Maltodekstrin: Struktur, Fungsi, dan Keamanan”.
Julia menjelaskan bahwa membuat formulasi produk pangan bukan sekadar mencampurkan bahan untuk menghasilkan rasa yang diinginkan. Setiap komponen memiliki peran tertentu, bahkan beberapa bahan bekerja saling melengkapi untuk membentuk karakteristik produk.
“Banyak orang membayangkan membuat formulasi produk pangan itu sederhana, padahal setiap bahan memiliki fungsi yang berbeda, dan banyak yang sebenarnya secara fungsi saling melengkapi. Ada banyak bahan yang keberadaan dan perannya secara keseluruhan tidak dapat digantikan dengan satu bahan yang lain,” ujar Julia.
Baca Juga: Danone Indonesia Raih Sertifikasi Top Employer 2026
Ia mencontohkan perbedaan fungsi gula dan pemanis. Pemanis dapat memberikan rasa manis, tetapi belum tentu mampu menggantikan seluruh kontribusi gula terhadap karakteristik fisik produk, seperti tekstur dan body, atau sensasi kepenuhan ketika dikonsumsi.
Di sinilah maltodekstrin menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam formulasi produk pangan. Julia menegaskan bahwa maltodekstrin merupakan karbohidrat yang berbeda dari gula, baik dari segi struktur maupun fungsinya.
“Di sinilah bahan seperti maltodekstrin dibutuhkan. Maltodekstrin bukan gula atau gula tambahan. Struktur maltodekstrin berbeda dengan gula,” paparnya.
Maltodekstrin merupakan turunan pati yang dihasilkan melalui proses hidrolisis dan dapat digunakan dalam berbagai produk pangan. Dalam produk seperti susu pertumbuhan, minuman, dan pangan fungsional, bahan ini dapat membantu membentuk sensasi produk di dalam mulut atau mouthfeel, mendukung kelarutan, serta berfungsi sebagai pembawa (carrier) vitamin dan mineral.
“Maltodekstrin sering dibutuhkan dalam produk pangan justru untuk peran yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan fungsional, bukan rasa,” kata Julia.
Untuk memperlihatkan bagaimana perbedaan formulasi dapat memengaruhi karakteristik minuman, peserta talk show juga diajak mengikuti uji cicip lima sampel teh. Demonstrasi yang dipandu Natania bersama Julia tersebut mencakup teh tanpa pemanis sebagai pembanding, teh dengan maltodekstrin, teh dengan sukralosa, teh dengan gula pasir, serta teh dengan kombinasi sukralosa dan maltodekstrin.
Natania menjelaskan bahwa tingkat kemanisan teh dengan sukralosa dan teh dengan gula pasir terlebih dahulu disamakan melalui pengujian di laboratorium. Proses ini dilakukan dengan pencicipan berulang oleh asisten dosen, sementara sukralosa ditimbang menggunakan timbangan analitik karena penggunaannya dalam jumlah sangat kecil.
Melalui uji cicip tersebut, peserta dapat merasakan bahwa rasa manis bukan satu-satunya faktor yang menentukan karakteristik minuman. Julia menjelaskan, penambahan maltodekstrin pada teh tanpa pemanis menghasilkan perbedaan yang relatif tipis dan mungkin sulit dikenali oleh konsumen awam.
Namun, ketika dipadukan dengan pemanis, maltodekstrin dapat memberikan sensasi yang berbeda. Minuman dengan pemanis tanpa maltodekstrin cenderung terasa manis tetapi lebih singkat, sedangkan kombinasi keduanya dapat memberikan sensasi yang lebih penuh dan bertahan lebih lama di dalam mulut.
Demonstrasi tersebut memperlihatkan bagaimana fungsi bahan pangan dapat saling melengkapi dalam membentuk karakteristik suatu produk. Meski demikian, sensasi saat mencicipi produk merupakan salah satu aspek yang perlu dibedakan dari penilaian kandungan gizi dan manfaat kesehatan.