Signify (Euronext: LIGHT) beberapa hari lalu di Singapura menyampaikan bahwa masa depan connected home di Asia tidak lagi sekadar ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh gaya hidup masyarakat. Pernyataan ini disampaikan pada diskusi panel bersama konsumen bertajuk “Asia’s Changing Lifestyles and the Connected Home: How Lighting Is Redefining Home – What’s Next for Asia?” yang menghadirkan As Tempelman, CEO Signify, dan Chandra Vaidyanathan, EVP Consumer Business Emerging Markets dan Managing Director Singapore.
Diskusi tersebut membahas pengaruh perubahan gaya hidup di seluruh Asia dalam membentuk ulang ekspektasi masyarakat terhadap hunian mereka, serta mengapa mengatur pencahayaan menjadi cara paling mudah untuk menyesuaikan suasana hunian dengan beragam kebutuhan tersebut.
Baca Juga: Signify Resmi Lakukan Grand Opening Philips Lighting Store Gading Serpong
Di Asia, sebuah rumah bisa menaungi banyak penghuni, fungsi, dan momen. Rumah menjadi tempat untuk bekerja, belajar, beristirahat, menerima tamu, hingga memulihkan energi. Ruang yang sama bisa menjadi area kerja di pagi hari, tempat anak belajar di siang hari, tempat kumpul keluarga lintas generasi di sore hari, sebelum akhirnya menjadi area melepas lelah di malam hari. Ruangannya tidak berubah, tetapi kebutuhan penghuni terhadap fungsinya bergeser.
Berdasarkan data Pew Research Center, lebih dari empat dari sepuluh orang di Asia Pasifik tinggal bersama keluarga besar. Banyak di antaranya menghuni rumah compact dengan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai area belajar, ruang kerja bagi yang work from home (WFH), hingga tempat berkumpul bersama keluarga. Fleksibilitas pun menjadi aspek krusial. Studi Reeracoen × Rakuten Insight mencatat bahwa 72% pekerja di Asia Pasifik memilih sistem kerja hybrid, meski baru 46% yang mendapatkannya.
“Kita sering membicarakan connected home sebagai cerita tentang teknologi. Namun, saya meyakini bahwa connected home adalah cerita tentang manusia serta bagaimana kehidupan dan ekspektasi mereka terhadap rumah terus berkembang,” ujar As Tempelman, CEO Signify, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
"Cahaya sudah hadir di hampir setiap ruangan dan menemani setiap momen sepanjang hari. Jadi, mengatur pencahayaan menjadi salah satu cara paling natural dalam menyesuaikan suasana rumah agar lebih nyaman untuk menjaga konsentrasi saat bekerja di pagi hari, menikmati waktu bersama keluarga di sore hari, hingga beristirahat di malam hari. Itulah mengapa masa depan connected home berawal dari gaya hidup masyarakat, dan di Asia, kami melihat gambaran yang sangat menarik akan arah perkembangannya," tegasnya.
Konsumen semakin menginginkan teknologi yang intuitif dan menyatu dengan kehidupan tanpa menambah perangkat dan aplikasi yang harus dikelola. Melalui kunjungan langsung ke hunian konsumen di seluruh ASEAN, Signify menemukan bahwa banyak konsumen masih bingung harus memulai dari mana. Mereka umumnya baru mengambil langkah pertama pada momen-momen penting kehidupan, seperti pindah rumah, merenovasi hunian, atau mulai berkeluarga. Pencahayaan pun menjadi titik awal yang paling familiar dan mudah dilakukan, bahkan untuk hunian sewa maupun rumah berukuran compact.
Memahami Connected Home dan Smart Lighting
Hasil kunjungan ke hunian konsumen menunjukkan bahwa kebutuhan setiap rumah tangga sangat beragam. Di Thailand, pencahayaan perlu terkoneksi dengan fitur smart home lain yang sudah terpasang di rumah. Di Malaysia, kemudahan seperti mematikan atau mengatur lampu tanpa harus beranjak dari tempat tidur memberikan kenyamanan yang nyata.
Secara khusus di Indonesia, Signify menemukan bahwa banyak keluarga melihat pencahayaan sebagai salah satu elemen yang dapat mendukung kenyamanan di dalam rumah, termasuk di kamar anak dan area bersantai. Ditambah dengan semakin terintegrasinya teknologi pintar dalam keseharian, aspirasi konsumen terhadap pencahayaan pun mulai bergeser dari conventional lighting ke smart lighting.
Smart lighting memungkinkan pengguna menyalakan atau mematikan lampu secara otomatis serta mengatur warna dan intensitas cahaya dengan mudah, baik melalui smartphone, remote control, atau voice assistant. Kemudahan yang ditawarkan membuat pasar smart lighting diproyeksikan tumbuh pesat mencapai US$173,21 miliar pada 2034 dari US$27,98 miliar pada 2025. Tren ini pun berpotensi ikut terjadi di Indonesia mengingat smart lighting semakin banyak dipakai seiring maraknya smart home.
Menjawab tren tersebut, Signify telah hadir dengan Philips Smart Lighting yang menawarkan ragam solusi pencahayaan inovatif untuk mendukung keseharian konsumen. “Philips Smart Lighting telah dirancang agar mudah digunakan, intuitif, dan memahami kebiasaan pengguna. Philips Smart Lighting juga hadir dengan berbagai pilihan produk, mulai dari smart bulb, downlight, light strip, light bar, hingga smart spotlight, untuk menjawab kebutuhan konsumen yang beragam. Dengan begitu, Philips Smart Lighting benar-benar menghadirkan solusi smart lighting yang mampu membuat rutinitas di dalam rumah menjadi lebih nyaman dan lancar,” ujar Dedy Bagus Pramono, President Director Signify Commercial Indonesia.