Corporate Social Responsibility (CSR) kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai program penyaluran bantuan kepada masyarakat. Menurut Bentoel Group, perusahaan perlu mengedepankan pendekatan community investment, yakni investasi sosial yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri dan berkembang secara berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan President Director Bentoel Group, William Lumentut, saat ditemui usai Bangun Bangsa Conference 2026 yang mengangkat tema Sustainable Community Growth: Shaping Indonesia's Future Inclusive Economy. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil untuk membahas pentingnya kolaborasi dalam menciptakan investasi sosial yang berdampak nyata.

Baca Juga: Bappenas: Ekonomi Hijau Bisa Ciptakan 5 Juta Lapangan Kerja Baru, Investasi Sosial Jadi Kunci

William mengatakan, Bentoel Group tidak lagi memandang CSR hanya sebagai kegiatan pemberian bantuan. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pendampingan, pelatihan, transfer pengetahuan, hingga akses jaringan agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

"Kami melihat CSR dari sisi yang berbeda. Yang kami lakukan adalah community investment. Jadi bukan memberikan dana, tetapi memberikan pendampingan, pelatihan, transfer ilmu, hingga membuka akses jejaring bagi masyarakat yang membutuhkan," ujarnya kepada Olenka, Kamis (6/8/2026). 

Menurut William, tujuan utama pendekatan tersebut bukan sekadar menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga mendorong lebih banyak pihak untuk berkolaborasi membangun masyarakat.

"Tujuan kami adalah memberikan ide dan inspirasi bagi pelaku usaha lain, akademisi, dan pemerintah supaya bisa bekerja sama dan berkolaborasi. Jadi bukan cuma kami saja yang ikut serta, tetapi pelaku usaha lain juga ikut bergerak," katanya.

Baca Juga: Bentoel Group Dorong Dekarbonisasi melalui Digitalisasi dan Fleksibilitas Kerja

Ia menjelaskan, program pemberdayaan yang dijalankan Bentoel Group kini telah berkembang dari proyek percontohan menjadi inisiatif yang menjangkau sejumlah kota dan kabupaten di Indonesia. Fokus utamanya bukan memberikan bantuan sesaat, melainkan membangun kemandirian ekonomi melalui peningkatan kapasitas masyarakat.

William mengungkapkan, pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Salah satu program pemberdayaan mampu mendorong pertumbuhan usaha mikro hingga sekitar 40 persen. Sementara dalam program lain di Jakarta, sejumlah UMKM bahkan berhasil menggandakan skala usahanya setelah memperoleh pelatihan dan pendampingan secara intensif.

Menurutnya, pengalaman mendampingi pelaku usaha mikro menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan modal.

"Yang paling penting adalah keberlanjutannya. Jangan sampai ketika kami selesai mendampingi, programnya ikut berhenti. Kami ingin mereka bisa terus berkarya dan tetap memiliki penghasilan," ujar William.

Sementara itu, Head of Corporate & Regulatory Affairs Bentoel Group, Dian Widyanarti, mengatakan masih banyak kelompok masyarakat yang memiliki potensi, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Ia mencontohkan program pemberdayaan penyandang disabilitas di Malang yang mengembangkan usaha katering rumahan. Melalui pendampingan dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, para pelaku usaha tersebut memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mendapatkan akses yang lebih luas terhadap peluang ekonomi.

"Masyarakat yang kami bantu itu tidak terlalu tampak, bahkan oleh masyarakat di sekelilingnya sendiri. Padahal mereka punya kemampuan sehingga perlu diberdayakan dan diperhitungkan dalam perekonomian kita," kata Dian.

Selain itu, Bentoel Group juga terus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha mikro melalui program EMPOWER Academy Jakarta Selatan yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Baca Juga: Nol Angka Putus Sekolah: Bukti Nyata Program CSR PELITA MSIG Life bersama ISCO Foundation

Dian mengatakan, dari 25 peserta program tersebut, sebanyak 19 pelaku UMKM berhasil memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam ekosistem Jakpreneur. Hal itu membuka peluang bagi mereka untuk mengikuti berbagai pameran dan bazar yang diselenggarakan pemerintah sehingga memiliki akses pasar yang lebih luas.

Melalui pendekatan community investment, Bentoel Group berharap perusahaan tidak hanya hadir sebagai pemberi bantuan, tetapi juga menjadi mitra yang membantu masyarakat membangun kemandirian ekonomi melalui kolaborasi bersama pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.