Penurunan daya beli membuat semakin banyak masyarakat kelas menengah Indonesia harus menyesuaikan gaya hidup dan kebutuhan finansialnya. Mulai dari menjual mobil pribadi untuk beralih ke kendaraan yang lebih murah dan hemat bahan bakar, hingga mengalihkan kredit pemilikan rumah (KPR) demi mendapatkan hunian dengan cicilan yang lebih terjangkau.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai, fenomena tersebut bukan sekadar persoalan perubahan gaya hidup atau ketidakmampuan individu dalam mengelola keuangan.

Bhima bilang, saat ini, semakin banyak masyarakat yang mengalami penurunan kelas ekonomi akibat persoalan struktural, termasuk kebijakan ekonomi dan perpajakan yang dinilai belum berpihak kepada kelas menengah.

“Jadi, pada ngerasa enggak sih, dalam beberapa tahun terakhir kelas menengah ini sebenarnya makin banyak yang downgrade? Dan ini memang real downgrade kebutuhan,” kata Bhima, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @bhimayudhistira, Senin(12/10/2026).

Lebih lanjut, Bhima menuturkan, penurunan kemampuan ekonomi tersebut tercermin dari keputusan masyarakat untuk mengurangi pengeluaran dan menyesuaikan kepemilikan aset dengan kondisi keuangan yang semakin terbatas.

Kendaraan pribadi yang sebelumnya mampu dimiliki kini harus ditukar dengan mobil yang lebih murah, sementara cicilan rumah yang dirasa memberatkan mendorong sebagian masyarakat mencari hunian yang lebih terjangkau.

Bhima juga menegaskan, kondisi ini tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan kebiasaan konsumtif masyarakat, seperti terlalu sering makan di kafe, membeli tiket konser, atau menghabiskan uang untuk kebutuhan gaya hidup.

Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar terletak pada tekanan ekonomi dan kebijakan yang memengaruhi daya beli masyarakat.

“Ini sebenarnya bukan salah di kelas menengahnya kurang lagi kerja atau bahkan kelas menengahnya terlalu boros, tapi ini masalahnya adalah masalah struktural,” katanya.

Bhima juga menyoroti menyusutnya jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut sekitar 10 juta orang kelas menengah telah hilang dalam kurun waktu tersebut.

Bahkan, menurut perkiraannya, sekitar 1,4 juta orang berpotensi keluar dari kelompok kelas menengah pada tahun ini dan bergeser ke kelompok masyarakat yang lebih rentan secara ekonomi.

Jika tekanan ekonomi terus berlanjut, kelompok yang mengalami penurunan kelas tersebut berisiko menghadapi kondisi yang lebih berat, termasuk kemungkinan jatuh ke dalam kemiskinan.

“Kalau tekanan ekonomi masih terjadi, dia akan turun menjadi orang miskin baru,” imbuh Bhima.

Baca Juga: Chatib Basri Beber Cara Menyelamatakan Kelas Menengah dari Jurang Kemiskinan