Growthmates, perubahan hormon seiring bertambahnya usia tidak hanya dialami perempuan. Laki-laki juga memiliki jam biologis yang memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk testosteron yang berperan penting dalam menjaga energi, massa otot, libido, suasana hati, hingga kesehatan pembuluh darah.

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron pria cenderung menurun. Clinical Nutrition Specialist sekaligus longevity expert, dr. Nadhira Afifa, MPH, SpGK, mengatakan Bahwa kadar testosteron pria dapat turun sekitar 1% per tahun setelah usia 40 tahun.

“Kalau bahas jam biologis, masa expired, pasti yang dibahas perempuan. Padahal laki-laki juga punya lho perubahan hormon seiring dengan bertambahnya usia mereka,” ungkap dr. Nadhira, dikutip dari laman Instagram pribadinya @nadhiraafifa, Jumat (23/10/2026).

dr. Nadhira menjelaskan, sebuah studi besar di Amerika Serikat menemukan bahwa testosteron total pria turun sekitar 1,6% per tahun. Sementara itu, testosteron bebas, yakni hormon yang lebih mudah tersedia untuk digunakan tubuh, dapat menurun sekitar 2–3% per tahun.

Penurunan testosteron dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, mulai dari energi yang berkurang, penurunan massa otot, perubahan libido, suasana hati, hingga aspek kesehatan pembuluh darah. Meski demikian, laju penurunan hormon ini tidak selalu sama pada setiap pria karena turut dipengaruhi kondisi kesehatan, gaya hidup, dan faktor metabolik.

Menurut dr. Nadhira, usia bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi penurunan testosteron. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah penumpukan lemak di area perut.

Selain berkaitan dengan risiko gangguan metabolik, kelebihan lemak tubuh, terutama obesitas, juga berhubungan dengan kadar testosteron yang lebih rendah. Karena itu, menjaga berat badan dan komposisi tubuh menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan hormon pria.

“Faktor terbesar yang bikin testosteron anjlok itu justru lemak perut,” kata dr. Nadhira.

Lebih lanjut, dr. Nadhira pun menyoroti temuan umbrella review tahun 2025 yang menunjukkan bahwa penurunan berat badan berkaitan dengan peningkatan kadar testosteron pria.

Salah satu studi yang mengikuti peserta selama tiga tahun bahkan menemukan bahwa setiap penurunan berat badan 1 kilogram berkaitan dengan kenaikan testosteron sekitar 0,6%.

Namun, angka tersebut bukan jaminan bahwa setiap pria yang kehilangan 1 kilogram berat badan akan mengalami kenaikan testosteron dengan besaran yang sama. Respons hormon dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi tubuh dan faktor lainnya.

Untuk membantu menjaga kesehatan testosteron, pria disarankan memantau lingkar pinggang secara berkala. Lingkar pinggang yang terus bertambah dapat menjadi salah satu indikator penumpukan lemak perut sekaligus pengingat untuk mengevaluasi pola makan, aktivitas fisik, dan berat badan.

“Ukur lingkar pinggang. Kalau perut kamu makin maju, itu tanda pertama kamu harus segera turunin berat badan sambil menjaga masa otot,” tukas dr. Nadhira.

Jika memang mengalami kelebihan berat badan, kata dr. Nadhira, penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang teratur. Latihan kekuatan juga dapat membantu mempertahankan massa otot selama proses penurunan berat badan.

Selain mengelola berat badan, kualitas tidur menjadi faktor lain yang tidak boleh diabaikan. Kurang tidur, terutama jika berlangsung berulang kali, dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan kesehatan secara keseluruhan.

Baca Juga: Dokter Boyke Ingatkan Pentingnya Vaksin HPV untuk Pria dan Wanita demi Cegah Risiko Kanker

dr. Nadhira pun mengingatkan bahwa meta-analisis menemukan kebiasaan tidur kurang dari lima jam dapat menurunkan testosteron.

“Jadi tidur itu harus at least 6 jam atau bahkan lebih ya,” katanya.

Bagi orang dewasa, kata dia, kebutuhan tidur umumnya sekitar 7–9 jam setiap malam. Karena itu, menjaga jadwal tidur yang teratur dan mencukupi waktu istirahat menjadi langkah yang lebih baik untuk mendukung kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Di sisi lain, pria juga perlu mewaspadai keluhan seperti tubuh yang terus-menerus terasa lemas, libido menurun, atau suasana hati yang mudah berubah. Meski dapat berkaitan dengan kadar testosteron rendah, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan adanya gangguan hormon.

Keluhan serupa juga bisa dipicu kurang tidur, stres, gangguan metabolik, efek obat, atau kondisi kesehatan lainnya. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.

“Kalau kamu ngerasa lemes terus, libido turun atau mood gampang drop, jangan langsung beli booster atau minta suntik hormon. Konsultasikan dulu ke dokter yang sesuai, baru nanti ditentukan treatment-nya,” jelas dr. Nadhira.

Terapi testosteron memang tersedia dan dapat membantu pria dengan defisiensi testosteron yang telah terdiagnosis serta memiliki indikasi medis. Namun, terapi ini bukan solusi untuk semua keluhan akibat pertambahan usia dan tidak seharusnya dilakukan atas permintaan sendiri tanpa evaluasi dokter.

Diagnosis umumnya memerlukan penilaian gejala serta pemeriksaan kadar testosteron pada pagi hari yang dikonfirmasi melalui pengukuran ulang sesuai pedoman klinis. Dokter juga perlu mengevaluasi kemungkinan penyebab dan mempertimbangkan manfaat serta risiko pengobatan.

Dikatakan dr. Nadhira, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah dampaknya terhadap kesuburan. Terapi testosteron dari luar tubuh dapat menekan produksi sperma sehingga pria yang masih merencanakan keturunan perlu mendiskusikan pilihan penanganan dengan dokter.

“Terapi testosteron itu emang ada dan bisa ngebantu kalau memang sesuai indikasi. Bukan dengan permintaan sendiri,” tegas dr. Nadhira.

Baca Juga: Bukan Cuma Suplemen, Dokter Ungkap 5 Kunci Menjaga Kesehatan Pria Usia 30 Tahun