Gani menuturkan, BSD City juga dikembangkan sebagai kota mandiri dengan pengelolaan infrastruktur dan layanan perkotaan yang terintegrasi, termasuk pengembangan konsep smart city. Penduduknya relatif muda dan adaptif terhadap teknologi, menjadikan kawasan ini ideal untuk uji coba inovasi dan teknologi baru.
“Penduduk BSD sangat terbuka terhadap teknologi. Kalau ada inovasi atau produk baru, masyarakat di sini cukup cepat menerima dan mencoba,” kata Gani.
Selain itu, kata dia, BSD City kini juga memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang fokus pada sektor kesehatan, pendidikan, digital, dan industri kreatif. Model KEK terbaru ini tidak lagi berfokus pada manufaktur atau pariwisata, melainkan pada industri berbasis inovasi dan teknologi.
Menurutnya, keberadaan KEK memberikan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal, sehingga mempermudah perusahaan global yang ingin masuk dan menguji pasar Indonesia.
Gani menilai masih banyak investor global yang tertarik dengan pasar Indonesia namun bingung memulai langkahnya. Dengan populasi besar dan kelas menengah yang terus tumbuh, Indonesia menawarkan peluang besar, tetapi membutuhkan titik masuk yang tepat.
BSD City, menurutnya, dapat menjadi tempat bagi perusahaan global untuk melakukan proof of concept, pengujian produk, hingga penyusunan strategi go-to-market sebelum memperluas bisnis ke seluruh Indonesia.
“Masuk ke Indonesia tidak harus langsung ke Jakarta. Bisa mulai dari BSD. Di sini kita punya ekosistem, insentif, dan dukungan untuk membantu ide-ide global masuk dan berkembang di pasar Indonesia,” terangnya.
Dengan dukungan pemerintah, infrastruktur kota, serta ekosistem inovasi yang terus berkembang, lanjut Gani, BSD City diharapkan mampu menjadi jembatan bagi kolaborasi global sekaligus membuka akses pasar Indonesia bagi pelaku industri internasional.