Workshop “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah” dirancang sebagai sarana edukasi publik untuk memperkenalkan proses hilirisasi kakao melalui pengalaman langsung. Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai sejarah dan potensi kakao Indonesia, tetapi juga mempraktikkan langsung pengolahan minuman cokelat berbasis kakao.
Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, menjelaskan bahwa bisnis yang dijalankannya berangkat dari ketertarikan terhadap potensi besar kakao Indonesia.
“Kami benar-benar jatuh cinta dengan cokelat Indonesia dan kakao Indonesia. Awalnya kami fokus membuat produk, lalu berkembang mempelajari kakao dari hulunya,” ujarnya.
Baca Juga: Olenka dan BPDP Gelar SWOT di Bekasi, Kupas Manfaat Sawit yang Dekat dengan Keseharian
Ia menuturkan Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. Namun demikian, citra cokelat premium selama ini justru lebih melekat pada negara-negara Eropa yang tidak memiliki produksi kakao sebesar Indonesia.
“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” katanya.
Dalam sesi edukasi, Nugroho menjelaskan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario.
Baca Juga: BPDP Jadi Lokomotif Pengembangan SDM Sawit Nasional
Menurutnya, varietas criollo atau yang dikenal sebagai Java Criollo merupakan kakao premium dengan kualitas tinggi dan jumlah yang sangat terbatas.
“Criollo ini paling aromatik, paling wangi, dan kualitasnya paling tinggi,” jelasnya.
Nugroho menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan fine flavor cocoa melalui pengolahan pascapanen yang baik, terutama fermentasi dan pengeringan.
“Kelebihan Indonesia adalah kita punya varietas kakao yang jika diolah dengan baik bisa menjadi fine flavor cocoa,” katanya.
Selain sesi edukasi, peserta workshop juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan minuman berbasis kakao Indonesia bersama Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, dan Shana yang memiliki keahlian di bidang mixology.

Dua menu minuman yang diperkenalkan dalam workshop tersebut, yakni Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat.
“Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana.
Sementara pada sesi berikutnya, peserta diajak membuat Pistachio Criollo Chocolate yang terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang tengah populer.
Baca Juga: PASPI Apresiasi Komitmen BPDP di Riset Kelapa Sawit
Peserta mempraktikkan teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membuat tampilan minuman berlapis dengan teknik gradasi warna, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish minuman.
Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta tampak aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan hasil karya mereka untuk diunggah ke media sosial. Pasalnya, dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian dan plating minuman yang menjadi salah satu nilai tambah dalam industri makanan dan minuman.

“Es batu penuh itu penting supaya layer minumannya bisa terbentuk,” jelas Shana.
Ia juga menjelaskan bahwa detail penyajian menjadi salah satu alasan mengapa minuman di kafe dan hotel memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Karena memang butuh teknik khusus dan detail dalam penyajiannya,” katanya.
Selain praktik pengolahan kakao, workshop tersebut juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai bagian dari inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Peserta mempraktikkan penggunaan creamer sawit dalam proses pembuatan minuman cokelat untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang.
Irena mengaku tertarik dengan penggunaan creamer sawit yang diperkenalkan dalam workshop tersebut karena dinilai memiliki rasa yang baik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam industri makanan dan minuman.
“Biasanya kami menggunakan non-dairy creamer berbahan singkong. Ternyata yang berbahan sawit ini juga enak dan bisa dikembangkan,” katanya.
Selain menjadi bagian dari inovasi produk, penggunaan creamer berbahan sawit juga menjadi bentuk pengenalan produk turunan komoditas perkebunan Indonesia yang memiliki nilai tambah tinggi dan potensi besar dalam industri hilir pangan dan minuman.
Melalui kegiatan “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah”, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional.