Risiko Tinggi, Kesalahan Kecil Bisa Berdampak Besar

Avep menjelaskan bahwa operasi HPHT dan deepwater menghadirkan kompleksitas teknis maupun bisnis yang jauh lebih tinggi dibanding pengeboran konvensional.

Dari sisi teknis, sumur HPHT dapat menghadapi tekanan hingga 20.000 psi dengan temperatur lebih dari 177 derajat Celsius, margin pengeboran yang sempit, tantangan pengendalian sumur, hingga desain sumur yang kompleks.

Sementara dari sisi bisnis, proyek deepwater membutuhkan biaya investasi dan operasional hingga tiga kali lebih besar dibanding proyek perairan dangkal. Selain itu, biaya non productive time (NPT) dapat mencapai US$1,5 juta per hari.

“Dalam proyek seperti ini, satu kesalahan operasional dapat menghapus nilai proyek yang dibangun selama bertahun-tahun,” kata Avep.

Kepemimpinan Keselamatan Tidak Bisa Didelegasikan

Pada kesempatan tersebut, Avep menekankan bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur atau kewajiban kepatuhan, melainkan perilaku kepemimpinan yang harus hadir di seluruh level organisasi.

Menurut dia, budaya keselamatan yang kuat akan membentuk disiplin operasional, kualitas pengambilan keputusan, kesadaran risiko, serta budaya organisasi yang sehat.

Safety is a leadership behavior. Keselamatan harus dimulai dari kepemimpinan dan tidak bisa didelegasikan,” tegasnya.

Ia juga mendorong terciptanya budaya kerja yang memberi ruang bagi setiap pekerja untuk menyampaikan kekhawatiran, menantang asumsi yang berisiko, hingga menghentikan pekerjaan ketika kondisi tidak aman.

Teknologi Penting, Tetapi Manusia Tetap Penentu

Avep menilai transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam industri pengeboran melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), machine learning, digital twin, hingga pusat operasi real-time.

Teknologi tersebut mampu meningkatkan visibilitas terhadap kondisi bawah permukaan, performa peralatan, tren operasional, serta potensi risiko yang muncul.

Namun demikian, teknologi tidak dapat menggantikan peran manusia. “Technology enhances decision quality. People make decisions. Teknologi meningkatkan kualitas keputusan, tetapi manusialah yang mengambil keputusan,” katanya.

Karena itu, investasi pada teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan kepemimpinan, kolaborasi lintas fungsi, dan peningkatan aspek human factors engineering.

Catatan Kinerja Pertamina Drilling

Sebagai contoh implementasi budaya keselamatan dan keunggulan operasional, Avep memaparkan capaian Pertamina Drilling sepanjang 2025.

Perusahaan mencatat TRIR 0,29, LTIF 0,09, serta tingkat NPT 1,29 persen, yang disebut lebih baik dibanding rata-rata global industri yang dirujuk oleh IADC maupun IOGP.

Kinerja tersebut turut mengantarkan Pertamina Drilling meraih penghargaan kinerja keselamatan dari International Association of Drilling Contractors (IADC).

“Dalam sumur yang kompleks, keselamatan mendorong kinerja dan kinerja menciptakan nilai,” ujar Avep.

Kolaborasi dan Regenerasi Jadi Kunci

Menutup paparannya, Avep menegaskan bahwa tantangan HPHT dan deepwater tidak dapat diselesaikan oleh satu perusahaan saja.

Menurut dia, kolaborasi antara operator, kontraktor, perusahaan jasa, regulator, dan penyedia teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan standar keselamatan dan keandalan operasi.

Selain itu, industri juga perlu menyiapkan generasi baru profesional pengeboran yang memiliki kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan berbasis risiko, literasi digital, kemampuan kepemimpinan, dan komitmen terhadap budaya keselamatan.

“Keunggulan dalam operasi HPHT dan deepwater tidak dicapai dengan menghilangkan risiko, tetapi dengan memahami risiko, mengelolanya secara efektif, dan membuat keputusan yang tepat setiap hari,” tutup Avep.