Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, mengatakan bahwa bisnis homeless media berpotensi untuk tumbuh secara berkelanjutan. Dengan catatan, homeless media tersebut tidak bersandarkan pada viralitas semata.

Ia menekankan bahwa dari sisi bisnis, model homeless media dapat berkembang secara berkelanjutan apabila mampu membangun kepercayaan audiens (community trust) dan menciptakan diversifikasi sumber pendapatan.

"Secara bisnis, model ini (homeless media) bisa berkelanjutan tetapi dengan catatan penting yang bertahan bukan hanya yang viral melainkan yang berhasil membangun community trust dan diversifikasi pendapatan," katanya kepada Olenka di Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Baca Juga: Menengok Fenomena Homeless Media, Apa Itu?

Rhenald Kasali menyampaikan bahwa saat ini sumber pendapatan homeless media tidak lagi hanya bersandarkan pada iklan. Pada perkembangannya pendapatan homeless media bisa berasal dari sponsorship, membership, subscription, affiliate commerce, paid community, hingga consulting.

"Itu sebabnya creator economy pada tingkatan global diperkirakan menuju ratusan miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan," tuturnya.

Ia mengingatkan, homeless media yang hanya mengandalkan pada kekuatan viralitas akan rentan terhadap perubahan algoritma platform digital serta cepat kehilangan relevansi apabila terjadi pergeseran tren.

"Hanya sedikit homeless media yang benar-benar sustainable. Banyak yang akhirnya bergantung pada algoritma platform. Ketika algoritma berubah, trafik bisa langsung jatuh," ujarnya.

Pendiri Rumah Perubahan ini berpandangan bahwa homeless media bukan sekadar tren sementara tetapi bagian dari transformasi besar yang terjadi di industri media. Ia menilai, transformasi tersebut didorong oleh perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi baru telah melahirkan generasi baru disertai dengan perpindahan audience dan perilaku dari media berbasis institusi menuju media berbasis platform.

"Menurut saya, homeless media bukan sekadar tren sementara. Ia merupakan bagian dari transformasi besar pada industri media," tegasnya.

Perlu diketahui, istilah homeless media merujuk pada media yang tidak memiliki "rumah" dalam pengertian konvensional khususnya dalam hal jaringan distribusi. Media jenis ini tumbuh secara fleksibel melalui platform digital serta mengandalkan distribusi konten yang berbasiskan pada cara kerja algoritma.

"Homeless media tumbuh langsung di platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, X, Telegram, hingga Substack," pungkasnya.