Istilah homeless media mendadak menjadi sorotan publik setelah muncul dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI. Polemik berkembang usai sejumlah media digital disebut sebagai bagian dari New Media Forum, sementara beberapa di antaranya memberikan klarifikasi dan menegaskan tidak memiliki kerja sama resmi dengan pemerintah.
Isu ini bermula ketika Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, memperkenalkan keberadaan New Media Forum dalam konferensi pers pemerintah.
Dalam keterangannya, Qodari menjelaskan istilah homeless media sebelumnya digunakan untuk menyebut media digital yang berkembang di media sosial tanpa basis media konvensional seperti televisi, surat kabar, atau portal berita besar.
Baca Juga: Mengenal Sosok Muhammad Qodari: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah
“Dulu namanya dikenal dengan istilah homeless media. Tapi teman-teman berusaha bertransformasi menjadi new media,” ujar Qodari.
Menurutnya, pemerintah melihat perkembangan media digital sebagai realitas baru dalam ekosistem komunikasi publik. Karena itu, Bakom RI ingin menjangkau masyarakat tidak hanya melalui media konvensional, tetapi juga lewat kanal digital yang memiliki pengaruh besar di media sosial.
Deretan Media yang Disebut
Dalam kesempatan tersebut, Qodari menyebut sejumlah media dan akun digital yang disebut tergabung dalam New Media Forum.
Beberapa nama yang disebut antara lain Narasi, Indozone, Dagelan, Indomusikgram, Muslim Folks, Bapak2ID, Menjadi Manusia, GNFI, Creativox, Kok Bisa, Pandemic Talks, Ngomongin Uang, Big Alpha, CXO Media, Nalar TV, Mahasiswa dan Jakarta, Notes Plus, hingga Mature Indonesia.
Bakom RI menilai media-media tersebut merupakan bagian dari perkembangan new media yang kini memiliki jangkauan besar di ruang digital.
Baca Juga: Menengok Fenomena Homeless Media, Apa Itu?
“Dengan kondisi tersebut, dengan realita bahwa new media sudah punya followers yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai miliaran, hemat kami yang terbaik adalah kita engage agar kualitas new media semakin meningkat,” kata Qodari.
Bakom RI Soroti Standar Jurnalistik
Dalam penjelasannya, Bakom RI juga membedakan antara new media dan akun media sosial biasa. Menurut Qodari, beberapa media digital yang disebut telah memiliki struktur organisasi, redaksi, hingga alamat operasional yang jelas.
Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam ekosistem new media, termasuk terkait standar jurnalistik seperti prinsip cover both sides dan verifikasi informasi.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Karier Qodari, Peneliti Lembaga Survei yang Masuk ke Lingkaran Kekuasaan
“Kalau misalnya belum memungkinkan, metode apa lagi yang bisa dipakai? Misalnya metode verifikasi, usulan dari teman-teman new media,” ujarnya.
Bakom RI menilai pendekatan dialog dan kolaborasi dengan media digital lebih efektif dibanding mengabaikan perkembangan tersebut.
Narasi hingga Indomusikgram Beri Klarifikasi
Tak lama setelah nama-nama media digital itu ramai diperbincangkan, sejumlah pihak langsung memberikan klarifikasi.
Narasi menegaskan tidak tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF). Dalam pernyataan resminya, Narasi menyebut tidak mengetahui maupun menghadiri pertemuan bersama Bakom RI.
Narasi juga menegaskan bahwa mereka merupakan media yang telah terverifikasi Dewan Pers sejak 2019 dan beroperasi sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Klarifikasi serupa disampaikan Bapak2ID. Founder Bapak2ID, James Jan Markus, menyatakan pihaknya tidak pernah menghadiri acara yang dimaksud dan tidak memiliki afiliasi dengan pihak mana pun.
Sementara itu, Indomusikgram juga menyampaikan klarifikasi melalui media sosial mereka. Indomusikgram menyebut tidak pernah bertemu dengan Bakom RI maupun menerima undangan resmi terkait forum tersebut.
Mereka menjelaskan keberadaan akun mereka di grup WhatsApp Indonesia New Media Forum hanya sebatas grup percakapan dan bukan bentuk kemitraan dengan pemerintah. Indomusikgram juga menegaskan tetap berdiri sebagai media komunitas musik independen sejak 2014.
Memicu Diskusi soal Independensi Media
Polemik ini memicu perdebatan mengenai relasi pemerintah dengan media digital di Indonesia. Sebagian pihak menilai langkah pemerintah merangkul new media merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran terkait independensi media ketika sejumlah media digital dikaitkan sebagai “mitra pemerintah”.
Terlepas dari kontroversi tersebut, fenomena homeless media menunjukkan bahwa lanskap media Indonesia terus berubah. Media berbasis media sosial kini memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan opini publik, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak mengonsumsi informasi melalui platform digital dibanding media konvensional.