Hari ini (16/10), WhatsApp meluncurkan Kelas Pengasuhan Digital, sebuah program edukasi selama tiga bulan bersama ICT Watch dan Keluarga Kita, yang berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI). Program ini dirancang untuk membantu orang tua mendampingi remaja saat beraktivitas di dunia digital, sekaligus menjaga kepercayaan dan komunikasi terbuka di antara mereka.
Program ini berlangsung dari Oktober hingga Desember di Jakarta, Padang, dan Cirebon. Program diawali hari ini di Jakarta dengan melibatkan 100 orang tua. Selanjutnya, pelatihan ini akan membekali lebih banyak penggerak komunitas lokal di Padang dan Cirebon agar dapat menjangkau 2.100 orang tua di ketiga kota tersebut. Selain itu, materi edukasi tentang keamanan digital dalam bentuk parental learning kit akan didistribusikan melalui kanal komunitas mitra. Inisiatif ini ditargetkan dapat menjangkau sekitar 179.000 orang tua hingga Desember.
Baca Juga: Perkuat Bisnis di Indonesia, WhatsApp Hadirkan Meta Business Agent
Fitur kontrol orang tua yang baru memungkinkan orang tua mengelola pengaturan dan batasan tertentu dalam penggunaan WhatsApp oleh remaja tanpa harus mengakses atau membaca percakapan pribadi mereka. Fitur ini mencakup:
- Pengaturan privasi, termasuk menentukan siapa yang dapat menambahkan remaja ke dalam grup;
- Notifikasi aktivitas grup dan Saluran WhatsApp yang diikuti remaja;
- Pengaturan Saluran, termasuk menentukan Saluran mana yang dapat diikuti remaja dan apakah remaja dapat membuat Saluran sendiri;
- Pengaturan visibilitas Status;
- Pembatasan interaksi dengan Meta AI.
Fitur kontrol orang tua ini bersifat opsional dan dapat disesuaikan. Dengan demikian, orang tua dapat melakukan pendampingan sesuai dengan kebutuhan keluarga masing-masing, sementara remaja tetap memiliki ruang untuk menjaga keamanan dan privasi mereka sendiri. Yang terpenting, pesan pribadi di WhatsApp secara default terenkripsi end-to-end, bahkan WhatsApp sekalipun tidak dapat membaca isi pesan.
Victoria Grand, VP Business Operations and External Affairs WhatsApp, mengatakan, "Orang tua menyampaikan kepada kami bahwa mereka ingin tetap dekat dengan anak remajanya tanpa menghilangkan hak privasi mereka. Fitur kontrol ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dan tersedia bagi keluarga di Indonesia dan di negara lainnya."
"Orang tua dapat mengelola pengaturan WhatsApp untuk anak remajanya, sedangkan pesan pribadi anak remaja tetap terlindungi dengan enkripsi secara end-to-end. Fitur ini hanya salah satu bagian dari upaya kami. Kami ingin memastikan para orang tua mengetahui keberadaan fitur-fitur ini dan memahami cara menggunakannya. Karena itulah, kami meluncurkan fitur ini bersamaan dengan program edukasi atau pelatihan yang bekerja sama dengan mitra-mitra yang sudah dipercaya oleh para orang tua di Indonesia," ujarnya.
Meta, WhatsApp, ICT Watch, Keluarga Kita, dan KOMDIGI bersama-sama mengembangkan parental learning kit yang terdiri atas modul, buku saku, video edukasi, dan dua permainan edukatif. Perangkat pembelajaran ini membahas empat hal yang paling sering menjadi perhatian orang tua terkait dunia digital, yaitu interaksi, konten, kecanduan, dan kesehatan mental. Program ini juga mencakup pelatihan bagi para pelatih (Training of Trainers) serta sesi pendampingan lanjutan yang dipandu oleh para Parent Champions (orang tua penggerak).
Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, mengatakan, “Pemerintah hadir melalui PP TUNAS untuk memperkuat pelindungan anak di ruang digital. Orang tua perlu menjadi teman berdiskusi, bukan hanya pengawas, agar anak nyaman bercerita ketika menghadapi masalah di ruang digital. Kami mengapresiasi kolaborasi WhatsApp, ICT Watch, dan Keluarga Kita melalui Kelas Pengasuhan Digital ini. Pendampingan dan literasi digital perlu terus diperkuat agar anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga warga digital yang tangguh, beretika, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk masa depan yang lebih baik.”