Hilirisasi industri agro memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas dan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Peran strategis tersebut turut tercermin dari sektor olahan pertanian dan hasil perkebunan yang menjadi salah satu penggerak utama ekspor nonmigas Indonesia.

Kementerian Perdagangan mencatatkan kinerja ekspor nasional menembus angka US$25,30miliar per April 2026. Realisasi tersebut tumbuh 12,32% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 21,98% dari bulan yang sama tahun lalu. Capaian tersebut ditopang kenaikan ekspor nonmigas 13,66% dengan komoditas seperti kopi, teh, dan rempah-rempah meningkat 54,44% serta tembakau dan rokok 43,49%. Secara kumulatif, ekspor nonmigas tumbuh 6,28% menjadi US$87,74 miliar sepanjang Januari hingga April 2026.

 Baca Juga: Bos MUTU: Green Job dan Green Economy Jadi Kunci Ekspor Produk Indonesia ke Pasar Global

Penguatan pada sektor pengolahan menjadi langkah penting saat ekspor sektor pertanian mengalami penurunan kumulatif sebesar 26,27%. Pemerintah terus memperkuat industri pengolahan komoditas agro agar daya saing produk semakin meningkat baik secara nasional dan di pasar global.

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, Yulia Astuti, menyatakan bahwa hilirisasi pada industri argo juga dapat menjadi strategi mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2028. Lebih lagi Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara agraris sehingga perlu terus adanya upaya peningkatan pengolahan produk pada sektor ekspor.

 "Peluang investasi hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi itu tentunya akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi kita," ujarnya, di Jakarta, dikutip Jumat (16/10/2026).

Yulia mengatakan, peran investasi dan kemudahan fasilitasi penanaman modal sebagai kunci utama untuk mendorong hilirisasi agro yang berkelanjutan. "Pemerintah sudah banyak berusaha untuk memberikan fasilitas tersebut, namun kami pun tetap membuka apabila ada ruang-ruang perbaikan atau ada hal-hal yang perlu kita tambahkan," jelasnya.

Nilai tambah di sektor hilirisasi ini pun dinilai sangat penting dalam sektor tenaga kerja. Dia menyinggung tentang kontribusi di hulu yang pada akhirnya merambah ke sektor hilir sehingga bisa menyumbang tenaga kerja yang lebih besar lagi.

CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, mengatakan bahwa industri agro harus menjadi fokus pendekatan dalam ekspor produk hilirisasi. Hanya saja untuk mencapai itu, dia menyinggung kondisi sektor hulunya. Pasalnya, hilirisasi masih sering bermasalah dalam pemenuhan bahan baku dan bahan penolong yang dibutuhkan industri. “Ini harus jadi perhatian karena kalau hulunya ini tidak bisa diselesaikan, keberhasilan pengembangannya akan sulit,” ujarnya.

Dia pun menegaskan bahwa penguatan hilirisasi industri agro bukan hanya upaya peningkatan ekonomi semata, tapi juga sejalan dengan pilar utama dan program prioritas nasional Presiden Prabowo. Kondisi ini berfokus pada ketersediaan dari sisi bahan baku dan dukungan secara domestik juga tetap terpenuhi.

“Jadi, satu hal yang juga penting kita pikirkan terus, tentu dilakukan dari segi bagaimana supaya agar tetap menjaga industri yang utuh. Kontribusinya nanti kita akan bisa lihat bagaimana itu sudah tercapai,” ujarnya menyinggung penerapan kehati-hatian di sektor pertanian.