Sosok Bront Palarae turut mencuri perhatian di ranah perfilman Tanah Air. Aktor asal Malaysia ini bahkan menjadi idola baru bagi para pecinta film Indonesia setelah sukses memerankan karakter ikonik dalam film Pengabdi Setan garapan sutradara Joko Anwar.

Belum lama ini, ia kembali terlibat dalam project film garapan sang sutradara, Ghost in the Cell. Dalam film ini, Bront Palarae memerankan karakter Jefry, seorang kepala sipir atau kepala lapas yang kejam, korup, dan sadis.

Terlepas dari film terbarunya, berikut telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Rabu (22/4/2026), untuk mengenal lebih lanjut sosok Bront Palarae hingga alasannya memilih turut berkarier di Tanah Air. 

Baca Juga: Profil Aming dan Jejak Karier di Dunia Hiburan, dari Komedian hingga Bintang Film

Profil Bront Palarae

Pemilik nama asli Nasrul Suhaimin bin Saifuddin ini merupakan pria kelahiran 27 September 1978 di Alor Setar, Kedah, Malaysia. Dikenal dengan nama panggungnya sebagai Bront Palarae, sang aktor memiliki keturunan Melayu, Punjab-Pakistan, dan Thailand.

Jauh sebelum mendalami dunia seni peran, Bront Palarae pernah menerima beasiswa dari pemerintah Italia untuk mengikuti kursus singkat Bahasa dan Budaya di Universitas untuk Orang Asing Prugia (Unistrapg), Italia pada 2005.

Perihal kehidupan pribadinya, sang aktor sudah menikah dengan Rozi Izma sejak 2013. Dari pernikahannya itu mereka telah dikaruniai seorang putri cantik bernama Adeena Imani Nasrul Suhaimi.

Perjalanan Karier

Sebelum sukses melebarkan sayapnya di dunia perfilman Indonesia, Bront Palarae telah lebih dulu berkarier di tanah kelahirannya, Malaysia.

Ia memulai debut aktingnya di layar kaca pada tahun 2000 melalui FTV Mat Nor Kusyairi & The Velvet Boys. Sementara debutnya di layar lebar lewat film Lang Buana yang tayang pada 2003. Namun, namanya mulai dikenal khalayak lewat perannya dalam serial televisi Cinta Tsunami (2005).

Nama Bront Palarae semakin melejit ketika mendapatkan peran sebagai Hussein di serial televisi Malaysia berjudul SinDarEla (Cinderella) di tahun 2008. Selain itu, ia juga menggeluti profesinya di balik layar sebagai seorang sutrada dan produser.

Namun, di tengah perjalanan kariernya, tampaknya Bront Palarae memilih fokus dan menikmati profesinya di dunia layar lebar sebagai aktor. Tercatat, sekitar 40 judul film yang berhasil dibintanginya.

Baca Juga: Profil dan Perjalanan Karier Aktor Kondang Abimana Aryasatya, Yuk Kepoin!

Karier Bront di Indonesia sendiri diawali dari aktingnya di serial Halfworlds (2015) garapan Joko Anwar yang tayang di HBO Asia. Sejak saat itu, tawaran bermain dalam sejumlah judul film pun mulai berdatangan.

Mengutip dari laman Liputan6.com, Bront Palarae memilih melanjutkan karier di Indonesia karena ingin mencari tantangan baru setelah 15 tahun berkarya di Malaysia. Ia menilai pengalaman berakting di Indonesia terasa berbeda, terutama dari segi dialog dan interpretasi, sehingga lebih seru dijalani.

Bront Palarae telah membintangi sejumlah film Indonesia dengan beragam karakter, mulai dari Headshot (2016), My Stupid Boss (2016), hingga perannya yang cukup ikonik sebagai Bahri Suwono dalam Pengabdi Setan (2017) dan sekuelnya Pengabdi Setan 2: Communion (2022). 

Ia juga tampil dalam film populer lain seperti Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) hingga Gundala (2019).. Selain film, Bront juga aktif di serial, di antaranya Halfworlds, The Bridge dan The Bridge 2, serta Katarsis (2023), yang semakin memperkuat eksistensinya di industri hiburan Tanah Air.

Sepanjang kariernya, Bront Palarae telah meraih berbagai penghargaan bergengsi di dunia perfilman. Ia memenangkan Pemeran Laki-Laki Terbaik di Anugerah Layar dan Festival Film Malaysia 2010 lewat Belukar, serta kembali meraih penghargaan serupa di Anugerah Layar 2014 melalui Psiko Pencuri Hati.

Ia juga mendapat penghargaan sebagai Pemeran Film Komedi Laki-Laki Terbaik di Anugerah Lawak Warna 2014 lewat Sejoli, serta Pemeran Laki-Laki Terbaik di Anugerah dan Festival Film Antarbangsa ASEAN 2015 melalui Terbaik dari Langit

Selain itu, ia memenangkan penghargaan dari Majelis Anugerah Pengkritik Film Kuala Lumpur 2016 lewat Ola Bola, dan meraih Best Leading Male Performance – Digital di Penghargaan Televisi Asia 2020 melalui serial The Bridge.

Keren banget, ya!