“Kalau kita minum tiga atau empat botol sehari, maka terjadi akumulasi gula darah yang tinggi. Itu bisa menimbulkan penumpukan kalori, kemudian jadi lemak-lemak, sehingga perutnya membuncit,” jelasnya.

Prof. Zubairi juga mengingatkan bahwa perut buncit, terutama jika disertai kurangnya aktivitas fisik, tidak sebaiknya dianggap sekadar persoalan penampilan.

Menurutnya, penumpukan lemak di area perut berkaitan dengan risiko kesehatan yang lebih serius.

Karena itu, Prof. Zubairi menyarankan agar konsumsi minuman manis kemasan dibatasi.

“Boleh, tapi minuman sebotol saja sehari paling banyak,” katanya.

Prof. Zubairi pun menambahkan, tingginya risiko kesehatan akibat konsumsi minuman berpemanis membuat sejumlah negara menerapkan pajak tambahan terhadap produk tersebut.

Kebijakan itu, lanjut dia, bertujuan meningkatkan harga minuman manis sehingga konsumsinya dapat ditekan.

“Di banyak negara, di Amerika, Inggris, Singapura, Malaysia, dan banyak negara lain, pajaknya tinggi banget sehingga harga minuman botol itu mahal. Dengan begitu, orang tidak banyak mengonsumsi, sehingga bisa tercegah diabetes dan perut buncit,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Lupus atau Alergi? Dokter Ahli Jelaskan Perbedaan Gejala dan Pemeriksaannya