Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki alergi terhadap telur tidak perlu menghindari makanan tersebut hanya karena khawatir mengalami bisul. Telur justru dapat menjadi salah satu sumber protein dalam pola makan sehari-hari dan tetap dikonsumsi sesuai kebutuhan tubuh.

“Telur mengandung 6–7 gram protein per butir. Kebutuhan protein orang dewasa 0,8–1 gram/kg berat badan. Tentunya tidak semuanya didapatkan dari telur, tetapi disarankan agar sumber protein dari aneka ragam pangan hewani maupun nabati,” kata Dr. Karina.

Selain protein, kata Dr. Karina, konsumsi telur juga perlu memperhatikan asupan lemak. Setiap butir telur mengandung sekitar 5–5,3 gram lemak, dengan lemak jenuh sekitar 1,5–1,6 gram.

Sementara itu, batas maksimal konsumsi lemak jenuh adalah 7 persen dari total energi atau sekitar 15 gram per hari untuk kebutuhan energi 2.000 kkal.

Dengan demikian, anggapan bahwa makan telur menyebabkan bisul tidak tepat jika dimaknai sebagai hubungan sebab-akibat secara langsung. Munculnya bisul lebih berkaitan dengan infeksi bakteri, kondisi kulit, kebersihan diri, serta kondisi sistem kekebalan tubuh.

“Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut,” tandas Dr. Karina.

Baca Juga: Benarkah Kurangi Garam Bisa Cegah Hipertensi? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi