Perang yang melibatkan Iran melawan Israel-Amerika semakin meluas ke beberapa wilayah Timur Tengah. Eksakalisi yang kian meningkat membuat sejumlah pihak mengkhawatirkan terjadinya perang dunia III.
Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah mengatakan, peluang pecahnya perang dunia III terbuka lebar, perang besar itu bukan kemustahilan apabila konflik di Iran terus meluas dan melibatkan negara-negara lain.
Baca Juga: Mengintip Cadangan BBM Nasional di Tengah Konflik Iran
Dia mengatakan Amerika Serikat dan Israel yang menjadi dua aktor utama dalam perang dunia sebelumnya kini menjadi dalang di balik konflik Iran, jadi menurutnya konflik yang terjadi sekarang ini bisa saja menjadi pintu masuk perang dunia berikutnya.
"Secara teori, PD III dapat terwujud dengan tiba-tiba. Kesatu, semakin banyak aktor yang terlibat, langsung maupun tidak langsung dalam perang kali ini. Aktor utama sudah jelas, yakni Amerika Serikat dan Israel, yang menyerang Iran tanpa menghormati hukum internasional," kata Rezasyah kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).
Rezasyah mengatakan, potensi ancaman perang dunia III itu semakin nyata ketika konflik yang sekarang ini turut menghanguskan ladang-ladang minyak Timur Tengah. Hal ini bakal memaksa negara-negara yang selama ini bergantung pada minyak Timur Tengah bakal ikut terlibat dalam konflik tersebut untuk kepentingan nasional mereka.
"Potensi akan membesar dari hari ke hari, terlebih lagi dengan terbakarnya banyak ladang minyak di Timur Tengah, dan semakin kuatnya Iran mengendalikan Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama energi dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan perang dunia III semakin cepat terwujud apabila konflik yang sekarang ini turut meledakan instalasi rahasia negara-negara yang terlibat, hal ini bakal memicu serangan balasan berskala besar.
"PD III ini dapat semakin cepat terwujud, seandainya terjadi ledakan tidak sengaja di salah satu instalasi rahasia, yang dapat memicu serangan balik secara total," ujarnya.
AS dan Israel memulai operasi skala besar pada Sabtu (28/2/2026). Mereka menargetkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, lapangan terbang militer, dan sistem pertahanan udara Iran.
Serangan AS dan Israel menewaskan sejumlah petinggi Iran. Salah satunya ialah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Baca Juga: Sepak Terjang Ali Khamenei, Sang Pemimpin Agung Iran yang Tewas dalam Serangan Israel-AS
Rentetan ledakan juga mengguncang sejumlah negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Mulai dari Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, hingga Kuwait semuanya melaporkan rentetan ledakan setelah AS bersama Israel menyerang Iran.