Menjelang Lebaran, tekanan pengeluaran rumah tangga biasanya meningkat seiring banyaknya kebutuhan yang datang bersamaan. Mulai dari kebutuhan harian, persiapan Hari Raya, buka bersama, hampers, hingga biaya mudik, semuanya menuntut pengelolaan arus kas yang lebih cermat.

Survei terbaru Amar Bank terhadap lebih dari 1.600 responden di sejumlah kota besar menunjukkan 87% mengalami kenaikan pengeluaran selama Ramadan. Meski begitu, hanya 16,9% yang merasa kondisi finansial mereka tetap stabil sepanjang bulan tersebut.

Menariknya, lonjakan ini bukan didominasi oleh konsumsi gaya hidup. Pengeluaran terbesar justru berasal dari kebutuhan rumah tangga (86%), diikuti kebutuhan Lebaran seperti baju, bukber, dan hampers (67,6%), serta tiket mudik (26,4%). Artinya, tekanan finansial lebih banyak dipicu oleh kebutuhan rutin yang menumpuk dalam waktu singkat.

Perbedaan strategi pun terlihat antar generasi. Gen Z cenderung lebih berhati-hati, mengandalkan dana darurat (46%) atau mengombinasikannya dengan pinjaman (38,3%). Mereka juga lebih merasakan tekanan di akhir Ramadan, dengan 42% mengaku kondisi keuangan makin ketat menjelang Lebaran.

Baca Juga: Prospek Ekonomi Indonesia 2026: Konsumsi Rumah Tangga dan Digitalisasi Perbankan Jadi Penopang Pertumbuhan

Sebaliknya, Milenial lebih fleksibel dan taktis. Sebanyak 42% menggunakan kombinasi dana darurat dan pinjaman, sementara 36% mengalami arus kas yang naik-turun tiap minggu. Ini menunjukkan kesiapan mereka untuk menyesuaikan strategi agar kebutuhan tetap terpenuhi.

Secara keseluruhan, pembiayaan selama Ramadan berfungsi sebagai alat menjaga stabilitas. Sekitar 50,4% responden memanfaatkan pinjaman, terutama untuk menunggu pencairan THR atau gaji (33,6%) serta menutup kebutuhan yang belum terpenuhi (29%). Hanya sebagian kecil yang menggunakannya untuk belanja di luar rencana.

THR sendiri memiliki peran penting sebagai “penyangga” finansial. Sebanyak 72,8% responden menganggapnya sebagai faktor yang memengaruhi keputusan keuangan, dengan mayoritas memprioritaskannya untuk kebutuhan keluarga dan keagamaan (65,8%).

Namun, tantangan tidak berhenti setelah Lebaran. Meski hampir setengah responden merasa kondisi keuangan kembali normal, 37,7% lainnya masih perlu waktu lebih lama untuk pulih.

Melihat hal ini, Amar Bank menempatkan diri sebagai mitra finansial yang tidak hanya menyediakan akses dana, tetapi juga membantu masyarakat mengelola prioritas, kesiapan dana darurat, serta penggunaan pembiayaan secara bijak.

“Ramadan sering menjadi periode ketika kebutuhan meningkat dalam waktu singkat, sementara arus kas belum tentu seimbang. Karena itu, masyarakat tidak hanya membutuhkan akses dana, tetapi juga pendampingan agar dapat mengambil keputusan keuangan secara bijak,” ujar Abraham Lumban Batu.

Di tengah tekanan pengeluaran musiman, literasi keuangan tetap menjadi kunci agar kondisi finansial tetap terjaga, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya.