Selanjutnya, Direktur Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE), Ir. St. Nugroho Kristono, M.T., mengatakan bahwa kebutuhan tenaga kerja di industri sawit terus meningkat, tidak hanya pada sektor budidaya dan pengolahan, tetapi juga teknologi digital, logistik, energi terbarukan, hingga keberlanjutan lingkungan.

"Sekarang era digitalisasi, mekanisasi, dan otomatisasi. Perusahaan sawit membutuhkan SDM yang menguasai teknologi informasi, sistem digital, hingga pengelolaan data perkebunan berbasis teknologi," ujarnya.

Nugroho  bahkan mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa telah direkrut perusahaan sebelum lulus kuliah. Selain itu, lanjut dia, isu keberlanjutan juga membuka peluang karier baru bagi lulusan sawit.

"Sawit tidak lepas dari isu sustainability. Ada kebutuhan SDM untuk sertifikasi ISPO, RSPO, pengelolaan lingkungan hidup, dan berbagai aspek keberlanjutan lainnya," ujarnya.

Nugroho menilai, pendidikan menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat sekaligus memperkuat regenerasi petani sawit generasi kedua dan ketiga. Ia pun mengatakan, keberhasilan program ini juga terlihat dari tingginya tingkat penyerapan lulusan di dunia kerja.

"Sebagian besar lulusan kami sudah terserap di dunia kerja dan tersebar di berbagai perusahaan di seluruh Indonesia, bahkan hingga Malaysia dan Papua Nugini," ujarnya.

Ia pun optimistis kebutuhan SDM sawit akan terus meningkat seiring transformasi industri menuju sektor yang lebih modern dan berkelanjutan.

Sebagai informasi, pendaftaran Program Beasiswa SDM Sawit Tahun 2026 resmi dibuka mulai 3 Juni 2026.

Melalui peningkatan kuota dan dukungan puluhan perguruan tinggi mitra, BPDP berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi sekaligus menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia perkebunan yang unggul, profesional, dan berdaya saing.

Baca Juga: BPDP Gandeng Universitas Udayana Tingkatkan Literasi Sawit Generasi Muda Lewat GenSawit 2026