Banyak orang yang terdorong mulai berolahraga demi hidup lebih sehat. Namun, tren olahraga seperti lari 5K, 10K, hingga maraton kerap membuat pemula tergoda untuk langsung berlatih dengan intensitas tinggi.
Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan jantung.
Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi di RS Hermina Depok, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), mengingatkan bahwa jantung membutuhkan proses adaptasi. Karena itu, seseorang yang sebelumnya jarang berolahraga sebaiknya tidak langsung melakukan aktivitas fisik berat.
"Banyak yang FOMO, sekarang ada yang langsung lari 5K, 10K, bahkan maraton. Karena itu bahaya. Jantung itu sifatnya pembiasaan," ungkap dr. Bobby, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari Podcast Raditya Dika, Senin (27/7/2026).
Menurut dr. Bobby, langkah terbaik bagi pemula adalah memulai olahraga secara perlahan namun konsisten. Tidak perlu langsung mengejar target jarak maupun kecepatan.
Yang terpenting, kata dia, adalah membangun kebiasaan agar tubuh, termasuk jantung, dapat beradaptasi dengan baik.
Sebagai tahap awal, dr. Bobby menyarankan untuk membiasakan diri berjalan kaki selama sekitar 30 menit setiap hari dengan kecepatan santai. Aktivitas sederhana ini sudah cukup untuk mulai melatih daya tahan tubuh dan jantung.
"Buat teman-teman yang ingin mulai hidup sehat, start slow saja, tapi konsisten. Kalau belum biasa jalan kaki, mulai jalan kaki rutin 30 menit dengan kecepatan santai. Belum perlu ada target apa-apa," jelasnya.
Baca Juga: Berat Badan Sulit Turun Meski Diet dan Olahraga? Ini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi
Setelah tubuh terbiasa, lanjut dr. Bobby, intensitas olahraga dapat ditingkatkan secara bertahap. Menurut dr. Bobby, seseorang yang sudah rutin berjalan kaki selama dua hingga tiga bulan dapat mulai beralih ke jalan cepat.
Selanjutnya, apabila sudah menjalani jalan cepat secara konsisten selama sekitar enam bulan, barulah olahraga kardio dengan intensitas lebih tinggi seperti jogging atau lari dapat mulai dipertimbangkan.
"Kalau sudah biasa mungkin dua sampai tiga bulan, diubah menjadi jalan cepat. Setelah mungkin enam bulan rutin jalan cepat, baru mulai kardio yang lebih intens seperti jogging atau lari," katanya.
Meski demikian, dr. Bobby tetap tidak menyarankan pemula langsung mencoba olahraga berat, terutama lari jarak jauh.
Ia menekankan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi sebaiknya dilakukan setelah tubuh benar-benar siap dan telah melalui tahapan latihan yang cukup.
Terlebih bagi mereka yang berusia 35 tahun ke atas atau memasuki usia 40-an, pemeriksaan kesehatan menjadi langkah penting sebelum memulai olahraga berat.
Hal ini, lanjut dr. Bobby, bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan jantung yang belum disadari sehingga risiko komplikasi saat berolahraga dapat diminimalkan.
"Untuk kesehatan dan keamanan jantung, saya tidak menyarankan teman-teman yang baru mulai olahraga langsung dengan intensitas berat seperti lari jarak jauh. Apalagi kalau sudah usia 35 tahun ke atas atau 40-an, jangan coba-coba sebelum melakukan medical check-up," tutup dr. Bobby.
Baca Juga: Sulit Punya Momongan? Ini Pemeriksaan yang Wajib Dilakukan Menurut Dokter Kandungan