Systemic Lupus Erythematosus atau yang lebih dikenal sebagai SLE merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan membedakan jaringan sehat dan justru menyerang organ tubuh sendiri, sehingga memicu peradangan kronis.
SLE sering dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya sangat beragam dan kerap menyerupai penyakit lain. Kondisi ini membuat proses diagnosis menjadi tidak mudah dan sering kali memerlukan waktu yang panjang.
Menurut dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, pasien SLE dapat mengalami berbagai gejala seperti kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga gangguan organ vital seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba.
“Karena gejalanya tidak spesifik, banyak pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisi menjadi lebih kompleks,” ujarnya.
Secara global, SLE masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi. Data epidemiologi global selama periode 1992–2022 menunjukkan bahwa insidensi SLE mencapai sekitar 5,14 kasus per 100.000 orang per tahun, dengan sekitar 400.000 kasus baru setiap tahunnya.
Di Indonesia, angka insidensi diperkirakan mencapai 7,4 kasus per 100.000 orang per tahun. Indonesia juga menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15–45 tahun) yang hidup dengan SLE.
Kondisi ini menjadikan SLE bukan hanya persoalan medis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas kerja, hingga peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Dampak Besar terhadap Kehidupan Pasien
Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan fase flare dan periode terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang.
Dampak penyakit ini juga sangat signifikan terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Data menunjukkan sekitar 82% pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan, 43,9% mengalami ketidakhadiran di sekolah atau pekerjaan, dan 32,5% bahkan terpaksa berhenti bekerja sepenuhnya. Selain itu, sekitar 50% pasien menghadapi dampak psikologis akibat perjalanan penyakit yang panjang.
Hal ini menunjukkan bahwa beban SLE tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, aktivitas harian, serta kemampuan pasien untuk tetap produktif.
Baca Juga: AstraZeneca Indonesia dan Siloam Hadirkan Inovasi AI Pertama untuk Transformasi Layanan Kanker
Pentingnya Diagnosis Dini
Secara klinis, SLE dipicu oleh aktivitas sistem imun yang berlebihan. Salah satu mekanisme penting dalam proses inflamasi pada SLE adalah jalur Interferon Tipe I yang membuat tubuh terus berada dalam kondisi menyerang dirinya sendiri.
Jika tidak ditangani secara tepat, peradangan kronis tersebut dapat menyebabkan kerusakan organ permanen. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala SLE menjadi langkah penting agar pasien dapat segera mencari pertolongan medis dan memperoleh penanganan sedini mungkin.
Perkembangan Terapi yang Lebih Terarah
Seiring berkembangnya pemahaman terhadap mekanisme penyakit, pendekatan penanganan SLE kini tidak hanya berfokus pada mengatasi flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi sebagai target utama.
Pendekatan ini bertujuan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah secara konsisten, mencegah kerusakan organ, serta meminimalkan penggunaan glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping. Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh European Alliance of Associations for Rheumatology yang menekankan pentingnya remisi, pencegahan flare, dan perlindungan organ dalam penanganan SLE.
Salah satu inovasi terbaru adalah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk SLE. Terapi ini bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I melalui penghambatan sinyal reseptor terkait, sehingga membantu mengontrol aktivitas penyakit pada pasien SLE aktif kategori sedang hingga berat sesuai evaluasi dokter.
Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, menjelaskan bahwa pendekatan penanganan SLE kini berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.
“Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta memberikan perlindungan terhadap kerusakan organ dalam jangka panjang,” jelasnya.
Manfaat Terapi Inovatif bagi Pasien Lupus
Menurut dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, terapi inovatif yang menargetkan jalur Interferon Tipe I memberikan manfaat yang signifikan bagi pasien SLE karena bekerja langsung pada mekanisme utama terjadinya penyakit.
“Pertama, terapi ini dapat membantu mengurangi gejala yang dialami pasien. Kemudian tentunya meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan angka kematian akibat lupus,” jelas dr. Sandra.
Ia menerangkan bahwa Interferon Tipe I merupakan protein yang berperan penting dalam proses kerusakan organ dan munculnya berbagai gejala lupus. Molekul ini memengaruhi banyak sel imun lain yang terlibat dalam proses autoimun, seperti sel B pembentuk autoantibodi, ketidakseimbangan sel T, hingga sel dendritik.
“Dalam proses terjadinya lupus, semua sel imun tersebut dipengaruhi oleh Interferon Tipe I. Dengan menghambat jalur ini, maka proses peradangan dan autoimun dapat ditekan sehingga kondisi pasien menjadi lebih stabil secara klinis,” ujarnya.
Melalui mekanisme tersebut, terapi inovatif diharapkan mampu membantu memperbaiki gejala, menjaga aktivitas penyakit tetap terkendali, mengurangi risiko kerusakan organ jangka panjang, serta membantu pasien menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
Selain inovasi terapi, edukasi masyarakat dan diagnosis yang lebih cepat juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan penanganan SLE di Indonesia.
Melalui kampanye “From Burden to Living Well”, AstraZeneca menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan, pengembangan terapi berbasis sains, dukungan terhadap studi berbasis bukti nyata (real-world evidence/RWE), serta program edukasi kesehatan yang telah menjangkau lebih dari 87.000 generasi muda di Indonesia.
Presiden Direktur AstraZeneca, Esra Erkomay, menyampaikan bahwa peningkatan kesadaran terhadap SLE perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien memperoleh penanganan yang tepat.
“Kami berharap semakin banyak pasien SLE di Indonesia dapat bergerak dari beban penyakit menuju kualitas hidup yang lebih baik,” tutupnya.