Industri kopi Indonesia masih menyimpan potensi pertumbuhan yang sangat besar dalam beberapa tahun ke depan. Hingga 2030, geliat bisnis kopi nasional diperkirakan belum akan melambat, justru semakin menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.
Co-Founder Anomali Coffee, Irvan Helmi, mengungkapkan bahwa salah satu indikator kuat dari optimisme tersebut terlihat dari menjamurnya kedai kopi di Tanah Air.
Menurutnya, jumlahnya kini telah mencapai lebih dari ratusan ribu gerai dan masih terus bertambah seiring meningkatnya permintaan pasar.
“Kita lihat data ya, ada beberapa media yang menampilkan, kita sampai 400 ribu coffee shop di Indonesia sekarang. Katanya sampai 2030 itu jumlahnya masih akan meningkat,” beber Irvan saat ditemui Olenka usai peresmian gerai ke-19 Anomali Coffee & Kitchen di MargoCity Mall, Depok, Jawa Barat, belum lama ini.
Namun, lanjut Irvan, pertumbuhan industri kopi tidak hanya soal kuantitas gerai. Menurutnya, masa depan kopi akan sangat ditentukan oleh inovasi, terutama yang menyentuh aspek kemudahan atau convenience.
Konsumen, kata dia, kini semakin menginginkan kopi berkualitas yang mudah diakses dan praktis dikonsumsi, tanpa harus selalu datang ke kedai kopi.
“Ke depannya akan banyak lagi yang menginginkan convenience. Jadi kopi-kopi yang gampang dibuat, gampang dinikmati,” jelasnya.
Inovasi tersebut, lanjut Irvan, juga tengah dipersiapkan oleh Anomali Coffee. Salah satunya melalui pengembangan produk siap minum berkualitas tinggi yang bisa dinikmati dengan standar suhu dan penyajian tertentu, namun tetap mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
“Termasuk Anomali juga akan ke arah itu. Salah satunya Anomali Coffee Tap. Jadi nanti kita bikin produk ready to drink, dalam kontainer tertentu, dengan suhu tertentu, yang benar-benar memudahkan orang menikmati kopi berkualitas,” tuturnya.
Baca Juga: Anomali Coffee Ekspansi ke Kota Depok, Irvan Helmi: Relevansi Pasar Jadi Pertimbangan Utama
Dikatakan Irvan, konsep ini membuat kopi tak lagi eksklusif berada di coffee shop. Ke depan, kopi akan hadir di lebih banyak ruang aktivitas, menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Dan menurutnya, aksesibilitas menjadi kunci kedua setelah kemudahan.
“Nggak cuma di coffee shop, tapi nanti akan lebih aksesibel. Bahkan tempat yang awalnya bukan tempat ngopi, bisa jadi kopinya masuk ke situ. Relevan dengan aktivitasnya, entah olahraga, taman bermain, atau kegiatan lainnya,” kata Irvan.
Menariknya, Irvan melihat kopi juga akan berperan sebagai vehicle atau kendaraan bagi produk-produk lokal lainnya. Bukan hanya kopi yang dibawa, tetapi juga cerita dan kekayaan produk Indonesia yang menyertainya.
“Bukan hanya kopi, justru di luar kopi, mudah-mudahan banyak banget produk-produk Indonesia yang akan masuk ke dalam vehiclenya itu, dibawa ke dalam aksesibilitas yang sama,” ungkapnya.
Irvan melanjutkan, selain convenience, aksesibilitas, dan relevansi dengan gaya hidup, ada satu elemen yang menurut Irvan tidak akan pernah kehilangan daya tarik, bahkan justru semakin menguat, yakni storytelling.
“Storytelling itu tidak akan pernah gugur. Kami yakin malah akan lebih di-amplify ke depannya. Karena kalau kopi dianggap bukan storytelling, dia akan jadi commodity. Kalau sudah commodity, ujungnya perang harga,” tegas Irvan.
Baginya, kekuatan cerita adalah pembeda utama industri kopi Indonesia. Cerita tentang petani, daerah asal, proses, hingga nilai budaya di balik secangkir kopi akan terus mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
“Kopi nggak akan lari ke sana. Kita akan lihat semakin banyak story-story yang harum, yang mengharumkan nama Indonesia,” pungkas Irvan.
Baca Juga: Anomali Coffee Resmi Buka Gerai ke-19, Luncurkan Anomali Cola di MargoCity Depok