Berkshire Gandakan Kepemilikan Treasury Bills

Strategi tersebut terlihat semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Berkshire Hathaway dilaporkan melipatgandakan kepemilikannya atas surat utang jangka pendek pemerintah AS (Treasury bills) dan menguasai sekitar 5% dari seluruh surat utang Treasury jangka pendek yang beredar, menurut laporan JPMorgan yang dikutip CNBC.

Per Maret 2025, total pasar surat utang jangka pendek pemerintah AS (US Treasury bills) mencapai sekitar US$6,15 triliun. Pada saat yang sama, Berkshire Hathaway memiliki aset berupa instrumen tersebut senilai US$300,87 miliar.

Angka tersebut berarti perusahaan yang dipimpin Buffett memegang hampir satu dari setiap 20 dolar Treasury bills yang beredar di pasar pada saat itu.

Besarnya kepemilikan tersebut membuat strategi Berkshire kembali menjadi sorotan ketika pasar obligasi global mengalami aksi jual.

Mengapa Strategi Buffett Kembali Disorot?

Kondisi pasar obligasi global saat ini membuat pandangan Buffett mengenai suku bunga, inflasi, dan jangka waktu investasi kembali relevan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun, yakni 4,81%, di tengah aksi jual global di pasar obligasi.

Kondisi tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan membengkaknya utang pemerintah.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 30 tahun dan menembus 3%. Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun juga naik menjadi 5,198%, level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun.

Hal yang perlu diperhatikan, harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. Ketika harga obligasi turun akibat aksi jual, yield yang ditawarkan instrumen tersebut justru meningkat.

Kenaikan imbal hasil juga terjadi di India. Imbal hasil obligasi pemerintah India tenor 10 tahun sempat menembus 7% untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada Rabu, didorong oleh aksi jual utang global yang semakin meluas serta kembali melonjaknya harga minyak.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi sekaligus meningkatkan perhatian terhadap pasar surat utang.

Pelajaran dari Strategi Buffett

Nah Growthmates, strategi Buffett menunjukkan bahwa menyebut obligasi sebagai investasi ‘buruk’ tidak berarti seorang investor harus menghindari obligasi sepenuhnya.

Yang menjadi perhatian utama adalah jenis obligasi, jangka waktu, tingkat imbal hasil, risiko inflasi, serta tujuan penggunaan dana.

Bagi investor jangka panjang, Buffett menilai saham yang dibeli pada valuasi wajar dapat memberikan profil risiko yang lebih menarik dibandingkan obligasi.

Namun, ketika tujuan utamanya adalah menjaga likuiditas dan keamanan dana, instrumen jangka pendek seperti Treasury bills dapat memiliki fungsi yang berbeda.

Karena itu, investasi besar Berkshire Hathaway pada Treasury bills tidak serta-merta bertentangan dengan kritik Buffett terhadap obligasi jangka panjang.

Justru, langkah tersebut memperlihatkan prinsip investasi yang selama ini ia pegang, yakni aset harus dinilai berdasarkan harga, risiko, jangka waktu, dan tujuan investasinya, bukan sekadar berdasarkan label saham atau obligasi.

Baca Juga: Warren Buffett Tolak Bangun Dinasti Kekayaan, Ini yang Akan Terjadi pada Hartanya