Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling berpengaruh di dunia. Salah satu pandangannya yang kerap menjadi perhatian adalah sikapnya terhadap obligasi, terutama obligasi jangka panjang.
Buffett pernah menyebut obligasi jangka panjang sebagai investasi yang 'buruk'. Namun, beberapa tahun kemudian, Berkshire Hathaway justru mengalokasikan dana dalam jumlah besar ke surat utang jangka pendek pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury bills.
Perbedaan sikap tersebut bukan berarti Buffett berubah haluan. Justru, strategi tersebut menunjukkan bahwa pandangannya terhadap obligasi sangat bergantung pada jangka waktu investasi, tingkat imbal hasil, serta kebutuhan likuiditas.
Di tengah melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi global ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat membengkaknya utang pemerintah, para investor kembali teringat pada pandangan Buffett mengenai aset pendapatan tetap.
Dikutip dari The Economic Times, Kamis (3/9/2026), Buffett pernah memperingatkan investor agar tidak terburu-buru beralih ke obligasi hanya karena imbal hasilnya meningkat.
Buffett Pernah Mengkritik Obligasi Jangka Panjang
Dalam surat tahunan kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada 2017, Buffett menyarankan investor untuk tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga di Wall Street maupun tergoda memborong obligasi ketika imbal hasilnya sedang melonjak.
Menurut Buffett, bagi investor dengan cakrawala investasi jangka panjang, menilai risiko investasi hanya berdasarkan perbandingan porsi obligasi dan saham dalam portofolio merupakan sebuah 'kesalahan fatal'.
"Tidak ada yang bisa memprediksi seberapa jauh harga saham bisa jatuh dalam waktu singkat," papar Buffett.
Namun, menurutnya, perspektif tersebut akan berubah ketika jangka waktu investasi diperpanjang.
"Namun, seiring bertambahnya cakrawala investasi seorang investor, portofolio saham AS yang terdiversifikasi menjadi jauh lebih rendah risikonya dibandingkan obligasi, dengan asumsi saham-saham tersebut dibeli pada kelipatan laba (multiple of earnings) yang wajar relatif terhadap suku bunga yang berlaku saat itu," tambahnya.
Pandangan Buffett terhadap obligasi sebenarnya telah muncul jauh sebelum itu. Dalam suratnya kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway pada 1979, ia menyoroti keraguannya terhadap obligasi berbunga tetap dengan jangka waktu sangat panjang yang didenominasi dalam dolar.
Buffett mempertanyakan apakah instrumen tersebut masih menjadi kontrak investasi yang menarik dalam kondisi ketika nilai dolar tampaknya hampir pasti terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
Pandangan tersebut berkaitan dengan risiko inflasi. Ketika investor memegang obligasi jangka panjang dengan tingkat bunga tetap, kenaikan inflasi dapat menggerus daya beli dari pembayaran bunga dan pokok yang diterima di masa depan.
Buffett Bukan Berarti Menghindari Semua Obligasi
Meski demikian, pandangan pesimistis Buffett terhadap obligasi lebih ditujukan pada instrumen berjangka panjang.
Dalam praktiknya, Berkshire Hathaway tetap menempatkan sebagian besar dananya pada instrumen pendapatan tetap jangka pendek di Amerika Serikat.
Strategi tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan likuiditas perusahaan. Bagi Buffett, surat utang pemerintah AS berjangka pendek dapat menjadi tempat menyimpan dana yang relatif likuid sembari menunggu peluang investasi yang lebih menarik.
Dengan demikian, investasi Berkshire pada obligasi jangka pendek tidak bisa disamakan dengan keputusan untuk menjadikan obligasi sebagai aset utama dalam portofolio jangka panjang.
Baca Juga: 4 Prinsip Keuangan Warren Buffett yang Bisa Bantu Anda Jadi Lebih Kaya