Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengklaim bahwa serapan lapangan kerja baru lebih tinggi dibandingkan jumlah tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal tersebut ia sampaikan bersamaan dengan laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun 2026.
Airlangga menyampaikan bahwa BPS mencatat jumlah serapan tenaga kerja langsung mencapai 1,45 juta orang pada semester I 2026. Angka tersebut naik 15% dari tahun sebelumnya.
Baca Juga: Menko Airlangga: Kemiskinan hingga Angka Pengangguran Turun Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo
"Jumlah orang yang bekerja terekrut lebih banyak 15% dari tahun lalu. Jadi di tengah adanya beberapa isu ataupun kasus-kasus PHK, jumlah orang yang dipekerjakan dengan lapangan kerja baru, investasi baru meningkat dengan tinggi," ungkap Airlangga dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29% pada Kuartal Kedua Tahun 2026
Ia menjelaskan, serapan tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan angka PHK karena didukung oleh peningkatan investasi pada paruh pertama tahun 2026. Pemerintah mencatat bahwa per Juni 2026 nilai investasi yang masuk mencapai Rp1.010,6 triliun. Nilai tersebut hampir 50% dari target investasi tahun ini yang mencapai Rp2.041,3 triliun.
"Pertumbuhan tenaga kerja itu akibat dari investasi. Dan investasi kembali 30 persen ke hilirisasi. Kemudian juga di Pulau Jawa itu ke sektor manufaktur. Jadi sektor itulah yang menjadi salah satu penopang untuk peningkatan penyerapan daripada tenaga kerja," tambahnya.
Selain manufaktur yang menjadi kontributor terbesar, sektor makanan dan minuman juga mencatat pertumbuhan sekitar 10%. Hal tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas pariwisata serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Turis lokal maupun wisman itu sektor mamin juga mendorong karena dia tumbuh sekitar 10%. Jadi dua sektor itu menjadi sektor yang merekrut cukup banyak tenaga kerja," tutupnya.