Abu vulkanik yang menyelimuti lahan pertanian dapat memberikan dampak berbeda terhadap tanaman. Pakar Ilmu Tanah IPB University, Prof. Iskandar, mengatakan tingkat kerusakan tanaman sangat dipengaruhi oleh durasi paparan abu vulkanik.
Semakin lama tanaman berada dalam kondisi tertutup abu, semakin besar pula risiko gangguan terhadap pertumbuhan dan produktivitasnya. Jika paparan berlangsung hingga berhari-hari atau berminggu-minggu, kerusakan yang ditimbulkan dapat menjadi lebih serius.
“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” tuturnya, dikutip dari laman IPB University, Selasa (8/9/2026).
Salah satu dampak utama abu vulkanik terhadap tanaman terjadi ketika material tersebut menutupi bagian daun dan batang. Lapisan abu dapat menutup stomata, yakni pori-pori pada permukaan daun yang berperan dalam pertukaran gas.
Kondisi tersebut dapat menghambat proses fotosintesis. Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan tanaman berpotensi terganggu, terutama apabila abu terus menempel dalam waktu yang cukup lama.
“Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” imbuhnya.
Besarnya dampak juga tidak sama pada setiap wilayah. Jarak tanaman dari pusat letusan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Di kawasan yang berada relatif dekat dengan pusat letusan, abu vulkanik yang turun ke permukaan masih dapat memiliki suhu tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan fisik secara langsung pada tanaman.
“Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati,” ujarnya.
Selain suhu, ukuran material vulkanik juga berbeda berdasarkan jaraknya dari pusat letusan. Semakin jauh dari sumber erupsi, partikel abu yang terbawa angin umumnya berukuran lebih kecil, halus, dan ringan.
Sementara di sekitar pusat letusan, material yang dikeluarkan gunung api dapat memiliki ukuran jauh lebih besar, mulai dari pasir dan kerikil hingga bongkahan batu.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Hujan Abu Vulkanik, Kapan Aktivitasnya Berhenti?
Berapa lama abu vulkanik bertahan di lahan juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama curah hujan. Abu yang membentuk lapisan tipis di permukaan relatif mudah terbawa aliran air ketika hujan turun.
Untuk lahan pertanian yang terdampak, Prof. Iskandar menyarankan pengolahan tanah dilakukan setelah hujan abu selesai dan kondisi sudah memungkinkan masyarakat kembali beraktivitas secara normal. Langkah tersebut terutama dapat dilakukan ketika lapisan abu yang menutupi lahan masih relatif tipis.
Namun, penanganannya menjadi lebih sulit apabila abu menumpuk dalam lapisan yang tebal. Dalam kondisi tersebut, pengolahan tanah membutuhkan upaya lebih besar.
Prof. Iskandar menyarankan agar abu vulkanik tidak serta-merta dibuang dari lahan. Material tersebut dapat dicampurkan dengan tanah, kemudian kondisi tanah perlu diperiksa untuk mengetahui perubahan karakteristiknya.
Pemeriksaan dapat dilakukan, antara lain, dengan mengukur tingkat keasaman atau pH tanah serta daya hantar listrik (DHL).
Di balik dampaknya terhadap tanaman, keberadaan abu vulkanik juga dapat menjadi bagian dari proses alami yang membantu memulihkan kesuburan tanah, khususnya pada lahan yang telah mengalami degradasi.
Ketika abu vulkanik yang berada di permukaan tanah terkena air hujan, sejumlah unsur di dalamnya dapat terlepas dan menjadi sumber hara yang bermanfaat bagi tanaman.
“Begitu abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan, maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K) dan lain-lain,” jelasnya.
Meski demikian, pemulihan lahan tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanah setelah terdampak abu. Pengukuran karakteristik tanah diperlukan agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lahan masing-masing.
Prof. Iskandar berharap aktivitas hujan abu vulkanik tidak berlangsung terlalu lama. Dengan demikian, masyarakat dapat segera kembali beraktivitas dan lahan pertanian yang terdampak bisa dipulihkan.
“Jadi semoga saja ‘hujan’ abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur,” pungkasnya.
Baca Juga: Jakarta dan Sekitarnya Dikepung Abu Vulkanik, Kemenkes Beri Peringatan Keras, Hindari 3 Hal Ini