5. Lubrizol dan Masalah David Sokol

Pada 2011, Berkshire Hathaway mengakuisisi perusahaan bahan kimia Lubrizol senilai sekitar US$9 miliar.

Namun, proses di balik transaksi tersebut kemudian menjadi masalah bagi Berkshire.

David Sokol, salah satu eksekutif Berkshire yang saat itu disebut sebagai kandidat penerus Buffett, ternyata telah membeli saham Lubrizol sebelum merekomendasikan perusahaan tersebut kepada Buffett.

Sokol kemudian mendapatkan keuntungan dari kepemilikannya dan akhirnya mengundurkan diri dari Berkshire.

Buffett mengakui bahwa situasi tersebut merupakan sesuatu yang sangat disesalkan. Dalam rapat pemegang saham 2011, ia menggambarkannya sebagai hal yang buruk bagi Berkshire maupun Sokol, serta mengaku masih sulit memahami bagaimana situasi tersebut bisa terjadi.

Kasus Lubrizol bukan semata-mata tentang performa investasi, tetapi juga menunjukkan pentingnya tata kelola, konflik kepentingan, dan proses pengambilan keputusan dalam investasi.

6. Tesco

Berkshire Hathaway pernah memiliki saham Tesco, jaringan supermarket besar asal Inggris, dalam jumlah sangat besar.

Namun, ketika kondisi bisnis perusahaan mulai memburuk, Buffett tidak segera keluar dari investasi tersebut.

Pada satu titik, Berkshire memiliki sekitar 415 juta saham Tesco. Berkshire kemudian menjual sebagian kepemilikannya, tetapi Buffett mengakui bahwa keputusan untuk menjual seharusnya dilakukan jauh lebih cepat.

Dalam surat kepada pemegang saham pada 2014, Buffett menyebut dirinya terlalu lambat dalam bertindak.

Ia bahkan mengatakan bahwa seorang investor yang jeli seharusnya sudah menjual saham Tesco lebih awal.

Kesalahan tersebut diperkirakan membuat Berkshire menanggung kerugian sekitar US$444 juta akibat keterlambatan menjual.

Pelajarannya yaitu mengetahui kapan harus mengakui bahwa sebuah investasi tidak lagi memenuhi tesis awal sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus membelinya.

7. Amazon

Tidak semua kesalahan Buffett berasal dari investasi yang buruk. Ada pula kesalahan yang muncul karena tidak berinvestasi sama sekali. Salah satunya adalah Amazon.

Buffett telah mengagumi Amazon sejak lama, tetapi Berkshire tidak membeli saham perusahaan tersebut ketika peluangnya masih terbuka lebar.

Pada 2017, Buffett mengakui bahwa dirinya seharusnya sudah membeli saham Amazon sejak lama. Ia mengatakan telah mengagumi perusahaan tersebut, tetapi tidak sepenuhnya memahami kekuatan model bisnisnya.

Selain itu, harga saham Amazon pada masa itu selalu terlihat terlalu mahal dibandingkan nilai yang ia atribusikan pada bisnis tersebut.

Pada akhirnya, keraguan tersebut membuat Buffett melewatkan salah satu perusahaan dengan pertumbuhan paling spektakuler di dunia.

Ini menjadi contoh bahwa terlalu berhati-hati juga dapat menjadi sebuah kesalahan investasi.

8. Berkshire Hathaway

Ironisnya, salah satu kesalahan investasi yang paling sering dibicarakan Buffett justru berkaitan dengan perusahaan yang kemudian menjadi kendaraan investasi terbesar dalam hidupnya, yakni Berkshire Hathaway.

Ketika Buffett mulai membeli saham Berkshire pada 1962, perusahaan tersebut masih merupakan bisnis tekstil yang sedang mengalami kemunduran.

Buffett terus membeli sahamnya. Kemudian, ia mendapatkan tawaran untuk menjual kepemilikannya kepada manajemen Berkshire.

Masalah muncul ketika harga yang ditawarkan ternyata sedikit lebih rendah daripada kesepakatan awal. Buffett merasa telah “dikerjai”.

Alih-alih menjual, Buffett justru membeli saham Berkshire lebih banyak, mengambil kendali perusahaan, dan kemudian memecat manajernya.

Belakangan, Buffett mengakui bahwa keputusan tersebut merupakan kesalahan besar karena Berkshire saat itu adalah bisnis tekstil yang buruk.

Ia bahkan pernah menyebut Berkshire sebagai ‘the dumbest stock I ever bought’ dan mengatakan bahwa keputusan tersebut membuatnya kehilangan peluang yang sangat besar karena modalnya terlanjur tertanam dalam bisnis tekstil yang bermasalah.

Ironisnya, Berkshire kemudian berubah menjadi salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia dan menjadi fondasi bagi hampir seluruh aktivitas investasi Buffett setelahnya.

Baca Juga: 4 Prinsip Investasi Warren Buffett yang Penting Dipahami Investor Muda