Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di dunia. Selama puluhan tahun memimpin Berkshire Hathaway, kepiawaiannya membaca bisnis dan memilih investasi membuatnya mendapat julukan ‘Oracle of Omaha’ atau ‘Sang Peramal dari Omaha’.
Namun, reputasi besar tidak berarti Buffett selalu benar. Justru salah satu hal menarik dari perjalanan investasinya adalah keterbukaannya dalam mengakui kesalahan.
Buffett tidak segan membicarakan keputusan yang ternyata merugikan Berkshire Hathaway, baik karena salah memilih perusahaan, membayar terlalu mahal, terlambat menjual saham, maupun melewatkan peluang investasi besar.
Dari berbagai kesalahan tersebut, ada satu pelajaran penting, yaitu investasi bukan tentang selalu benar, melainkan tentang mampu mengenali kesalahan dan belajar darinya.
Dan, dikutip dari FinanceBuzz, Kamis (27/8/2026), berikut 8 momen ketika Warren Buffett mengakui bahwa dirinya salah langkah.
1. Melewatkan Kesempatan Besar pada Maret 2020
Ketika pandemi COVID-19 mulai mengguncang pasar saham pada Maret 2020, indeks S&P 500 anjlok sekitar 34% dari rekor tertingginya. Kepanikan membuat banyak saham diperdagangkan dengan harga jauh lebih rendah.
Situasi tersebut sebenarnya menciptakan peluang bagi investor yang berani membeli ketika pasar sedang tertekan.
Namun, Buffett justru memilih lebih berhati-hati.
Belakangan, ia mengakui bahwa Berkshire Hathaway melewatkan kesempatan besar tersebut. Dalam rapat tahunan pemegang saham, Buffett bahkan menyebut keputusannya tidak berinvestasi secara agresif saat pasar jatuh sebagai sebuah kesalahan.
“Saya benar-benar melewatkan kesempatan itu,” kata Buffett, seraya mengakui bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar pada Maret 2020.
Kasus ini menunjukkan bahwa bahkan investor berpengalaman pun bisa kesulitan menentukan kapan harus masuk ke pasar ketika ketidakpastian berada di level tertinggi.
2. Precision Castparts
Pada 2016, Berkshire Hathaway mengakuisisi Precision Castparts, produsen komponen logam untuk industri kedirgantaraan dan sektor lainnya.
Buffett tertarik pada bisnis tersebut karena melihat posisi kuat perusahaan di industri kedirgantaraan. Namun, pandemi COVID-19 kemudian menghantam sektor penerbangan dan membuat bisnis Precision Castparts terpukul.
Berkshire akhirnya membukukan kerugian besar terkait investasi tersebut.
Buffett kemudian mengakui kesalahannya dengan sangat jelas. Dalam surat kepada pemegang saham, ia mengatakan bahwa dirinya membayar terlalu mahal untuk Precision Castparts.
Menurut Buffett, tidak ada pihak yang menyesatkannya. Kesalahan tersebut sepenuhnya berasal dari penilaiannya yang terlalu optimistis terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba normal.
Pelajarannya sederhana, yaitu perusahaan berkualitas sekalipun bisa menjadi investasi buruk jika dibeli dengan harga yang terlalu mahal.
3. Dexter Shoes
Pada 1993, Buffett membeli Dexter Shoes menggunakan saham Berkshire Hathaway senilai sekitar US$433 juta.
Awalnya, Buffett melihat Dexter memiliki keunggulan kompetitif yang cukup kuat. Namun, keunggulan tersebut ternyata tidak bertahan lama. Persaingan dan perubahan industri membuat bisnis perusahaan akhirnya kehilangan daya saing.
Kesalahan itu menjadi semakin mahal karena transaksi dilakukan menggunakan saham Berkshire Hathaway.
Dalam surat kepada pemegang saham pada 2007, Buffett mengatakan bahwa keunggulan kompetitif yang sebelumnya ia yakini ternyata menghilang hanya dalam beberapa tahun.
Kerugian yang akhirnya ditanggung pemegang saham Berkshire diperkirakan mencapai sekitar US$3,5 miliar.
Dexter Shoes menjadi salah satu contoh paling terkenal bahwa kesalahan dalam menilai daya tahan keunggulan kompetitif sebuah perusahaan dapat berakibat sangat mahal.
4. ConocoPhillips
Pada 2008, Buffett membeli saham ConocoPhillips dalam jumlah besar. Keputusan tersebut tampak masuk akal pada saat itu.
Harga minyak sedang melonjak dan sempat mendekati US$150 per barel. Buffett pun melihat prospek sektor energi sebagai sesuatu yang menarik.
Masalahnya, harga energi kemudian jatuh drastis pada paruh kedua 2008. Harga saham ConocoPhillips ikut tertekan.
Dalam surat pemegang saham tahun berikutnya, Buffett mengakui bahwa ia membeli saham perusahaan tersebut ketika harga minyak dan gas berada terlalu dekat dengan puncaknya.
“Saya sama sekali tidak mengantisipasi penurunan drastis harga energi,” tulis Buffett.
Kesalahan waktu pembelian itu akhirnya menimbulkan kerugian miliaran dolar bagi Berkshire Hathaway.
Kasus ConocoPhillips menjadi pengingat bahwa bahkan investor dengan analisis fundamental yang kuat tetap bisa salah ketika membuat keputusan berdasarkan kondisi komoditas yang sangat siklis.
Baca Juga: 6 Nasihat Warren Buffett untuk Kelas Menengah yang Ingin Cepat Kaya
5. Lubrizol dan Masalah David Sokol
Pada 2011, Berkshire Hathaway mengakuisisi perusahaan bahan kimia Lubrizol senilai sekitar US$9 miliar.
Namun, proses di balik transaksi tersebut kemudian menjadi masalah bagi Berkshire.
David Sokol, salah satu eksekutif Berkshire yang saat itu disebut sebagai kandidat penerus Buffett, ternyata telah membeli saham Lubrizol sebelum merekomendasikan perusahaan tersebut kepada Buffett.
Sokol kemudian mendapatkan keuntungan dari kepemilikannya dan akhirnya mengundurkan diri dari Berkshire.
Buffett mengakui bahwa situasi tersebut merupakan sesuatu yang sangat disesalkan. Dalam rapat pemegang saham 2011, ia menggambarkannya sebagai hal yang buruk bagi Berkshire maupun Sokol, serta mengaku masih sulit memahami bagaimana situasi tersebut bisa terjadi.
Kasus Lubrizol bukan semata-mata tentang performa investasi, tetapi juga menunjukkan pentingnya tata kelola, konflik kepentingan, dan proses pengambilan keputusan dalam investasi.
6. Tesco
Berkshire Hathaway pernah memiliki saham Tesco, jaringan supermarket besar asal Inggris, dalam jumlah sangat besar.
Namun, ketika kondisi bisnis perusahaan mulai memburuk, Buffett tidak segera keluar dari investasi tersebut.
Pada satu titik, Berkshire memiliki sekitar 415 juta saham Tesco. Berkshire kemudian menjual sebagian kepemilikannya, tetapi Buffett mengakui bahwa keputusan untuk menjual seharusnya dilakukan jauh lebih cepat.
Dalam surat kepada pemegang saham pada 2014, Buffett menyebut dirinya terlalu lambat dalam bertindak.
Ia bahkan mengatakan bahwa seorang investor yang jeli seharusnya sudah menjual saham Tesco lebih awal.
Kesalahan tersebut diperkirakan membuat Berkshire menanggung kerugian sekitar US$444 juta akibat keterlambatan menjual.
Pelajarannya yaitu mengetahui kapan harus mengakui bahwa sebuah investasi tidak lagi memenuhi tesis awal sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus membelinya.
7. Amazon
Tidak semua kesalahan Buffett berasal dari investasi yang buruk. Ada pula kesalahan yang muncul karena tidak berinvestasi sama sekali. Salah satunya adalah Amazon.
Buffett telah mengagumi Amazon sejak lama, tetapi Berkshire tidak membeli saham perusahaan tersebut ketika peluangnya masih terbuka lebar.
Pada 2017, Buffett mengakui bahwa dirinya seharusnya sudah membeli saham Amazon sejak lama. Ia mengatakan telah mengagumi perusahaan tersebut, tetapi tidak sepenuhnya memahami kekuatan model bisnisnya.
Selain itu, harga saham Amazon pada masa itu selalu terlihat terlalu mahal dibandingkan nilai yang ia atribusikan pada bisnis tersebut.
Pada akhirnya, keraguan tersebut membuat Buffett melewatkan salah satu perusahaan dengan pertumbuhan paling spektakuler di dunia.
Ini menjadi contoh bahwa terlalu berhati-hati juga dapat menjadi sebuah kesalahan investasi.
8. Berkshire Hathaway
Ironisnya, salah satu kesalahan investasi yang paling sering dibicarakan Buffett justru berkaitan dengan perusahaan yang kemudian menjadi kendaraan investasi terbesar dalam hidupnya, yakni Berkshire Hathaway.
Ketika Buffett mulai membeli saham Berkshire pada 1962, perusahaan tersebut masih merupakan bisnis tekstil yang sedang mengalami kemunduran.
Buffett terus membeli sahamnya. Kemudian, ia mendapatkan tawaran untuk menjual kepemilikannya kepada manajemen Berkshire.
Masalah muncul ketika harga yang ditawarkan ternyata sedikit lebih rendah daripada kesepakatan awal. Buffett merasa telah “dikerjai”.
Alih-alih menjual, Buffett justru membeli saham Berkshire lebih banyak, mengambil kendali perusahaan, dan kemudian memecat manajernya.
Belakangan, Buffett mengakui bahwa keputusan tersebut merupakan kesalahan besar karena Berkshire saat itu adalah bisnis tekstil yang buruk.
Ia bahkan pernah menyebut Berkshire sebagai ‘the dumbest stock I ever bought’ dan mengatakan bahwa keputusan tersebut membuatnya kehilangan peluang yang sangat besar karena modalnya terlanjur tertanam dalam bisnis tekstil yang bermasalah.
Ironisnya, Berkshire kemudian berubah menjadi salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia dan menjadi fondasi bagi hampir seluruh aktivitas investasi Buffett setelahnya.
Baca Juga: 4 Prinsip Investasi Warren Buffett yang Penting Dipahami Investor Muda