Komunikasi sering disebut sebagai fondasi utama dalam sebuah hubungan. Meski demikian, tidak semua topik dapat dibicarakan dengan mudah oleh pasangan. Salah satu yang masih kerap dianggap sensitif adalah persoalan keintiman, mulai dari kebutuhan emosional, preferensi pribadi, hingga batasan yang ingin dijaga dalam hubungan.

Padahal, keterbukaan dalam membahas hal-hal tersebut dapat membantu pasangan membangun hubungan yang lebih sehat dan saling memahami. Sayangnya, banyak pasangan dewasa masih merasa canggung untuk memulai percakapan mengenai topik tersebut.

Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli

Temuan dari The Gottman Institute menunjukkan bahwa 73% pasangan tidak pernah mendiskusikan kebutuhan seksual, fantasi, maupun batasan mereka secara mendalam. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun komunikasi menjadi bagian penting dalam hubungan, pembahasan mengenai keintiman masih sering terabaikan.

Melihat kondisi tersebut, merek kondom asal Jepang, Okamoto, menghadirkan program bertajuk Spill the (Safe) Tea yang dirancang untuk mendorong pasangan dewasa lebih berani membangun percakapan terbuka mengenai hubungan dan keintiman.

Baca Juga: Okamoto Luncurkan Dua Varian New OK Series untuk Jawab Preferensi Intim Pasangan Modern

Senior Chief Marketer Okamoto Industries (HK) Ltd., Holly Kwan, mengatakan bahwa keterbukaan menjadi salah satu elemen penting dalam menciptakan hubungan yang berkualitas dan dilandasi rasa saling memahami.

"Melalui Spill the (Safe) Tea, kami ingin mengajak pasangan berani membicarakan hal-hal yang sering dianggap canggung, mulai dari kebutuhan emosional, kenyamanan, hingga batasan dalam hubungan. Pada akhirnya, hubungan yang sehat lahir dari rasa saling memahami, bukan sekadar asumsi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Olenka pada Rabu (24/06/2026). 

Program tersebut digelar melalui kolaborasi bersama komunitas DearMoms dan IVG dengan melibatkan sejumlah pasangan dewasa dalam suasana yang lebih personal dan nyaman. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengeksplorasi pentingnya komunikasi, kenyamanan, serta kesadaran terhadap kebutuhan masing-masing pasangan.

Menariknya, kegiatan ini dikemas dalam konsep afternoon tea yang santai sehingga peserta dapat berdiskusi tanpa tekanan. Selain sesi refleksi hubungan, peserta juga mengikuti berbagai aktivitas interaktif yang dirancang untuk membuka ruang percakapan yang lebih jujur dan mendalam.

Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai berbagai mitos yang masih berkembang terkait kesehatan seksual dan penggunaan kondom. Dengan pendekatan yang ringan dan bebas penilaian, diskusi diharapkan dapat membantu pasangan merasa lebih nyaman saat membahas topik yang selama ini dianggap tabu.

Baca Juga: Peringati Hari Perempuan Internasional, Kampanye #AccelerateAction Dorong Kesadaran Kesehatan Intim

Psikolog sekaligus sex educator, Febrizky Yahya, menilai bahwa banyak pasangan sebenarnya memiliki keinginan untuk membicarakan kebutuhan emosional maupun persoalan keintiman. Namun, rasa takut disalahpahami atau memicu konflik sering kali menjadi penghalang utama.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam hubungan bukan selalu perbedaan pendapat, melainkan ketidakberanian untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan.

"Alih-alih bertanya secara langsung, banyak pasangan memilih berasumsi. Akibatnya, muncul kesalahpahaman yang dapat memengaruhi kualitas hubungan. Padahal, komunikasi terbuka dapat membantu pasangan saling memahami, membangun rasa aman secara emosional, dan menciptakan kedekatan yang lebih kuat," jelasnya.

Lebih lanjut, Febrizky menekankan bahwa percakapan mengenai keintiman tidak harus selalu dimulai dengan topik yang berat. Sebaliknya, pasangan dapat memulainya dari diskusi sederhana mengenai kenyamanan, harapan, atau kebutuhan yang dirasakan dalam hubungan sehari-hari.

Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kualitas hubungan, komunikasi yang terbuka menjadi keterampilan yang semakin relevan bagi pasangan modern. Bukan hanya untuk menghindari kesalahpahaman, tetapi juga untuk membangun rasa percaya dan kedekatan yang lebih kuat dalam jangka panjang.

Karena itu, menciptakan ruang percakapan yang aman dan nyaman dapat menjadi langkah awal yang penting. Dengan saling mendengarkan tanpa menghakimi, pasangan memiliki peluang lebih besar untuk memahami kebutuhan satu sama lain sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat, bertanggung jawab, dan penuh kepercayaan.