Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global akibat memanasnya hubungan Amerika Serikat–Israel dan Iran, serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang menerapkan tarif impor global sementara hingga 15 persen, Asia semakin menonjol sebagai salah satu pusat ekonomi dunia.
Dalam konteks tersebut, Indonesia berada pada posisi strategis dengan prospek pertumbuhan yang tetap kuat dan stabilitas domestik yang relatif terjaga. Meningkatnya konektivitas regional pun mempererat integrasi Indonesia dalam arus perdagangan dan investasi kawasan, termasuk melalui kemitraan ekonomi dengan Tiongkok yang semakin menjadi pilar penting dalam rantai pasok dan investasi regional.
Baca Juga: BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
Bagi pelaku usaha Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar tren bilateral, melainkan peluang untuk memperluas pasar dan memperkuat bisnis lintas negara. “Momentum Indonesia–Tiongkok bukan hanya peluang perdagangan, melainkan cerminan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi,” ujar Director of Institutional Banking Group at PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Dalam menghadapi dinamika tersebut, diperlukan strategi yang komprehensif agar pelaku usaha dapat tetap resilien sekaligus mengoptimalkan peluang yang ada. Ada sejumlah rekomendasi strategi dari dunia perbankan, dalam hal ini Bank DBS untuk membantu korporasi, termasuk perusahaan yang terlibat dalam aktivitas bisnis lintas negara dengan Tiongkok, tetap adaptif dan menangkap peluang di tengah ketidakpastian global.
1. Antisipasi Risiko Geopolitik dengan Diversifikasi Pasar dan Rantai Pasok Regional
Kawasan Asia tetap menunjukkan prospek pertumbuhan yang relatif kuat dengan Tiongkok sebagai salah satu motor utama. DBS Group Research memproyeksikan ekonomi Tiongkok tetap tumbuh sekitar 4,5 persen dengan dukungan kebijakan moneter yang akomodatif sehingga aktivitas perdagangan dan investasi regional tetap terjaga. Bagi korporasi Indonesia, kondisi ini membuka peluang untuk menyeimbangkan risiko global melalui diversifikasi pasar serta memperkuat keterlibatan dalam rantai pasok regional yang terintegrasi dengan Tiongkok sebagai pusat manufaktur global.
Meski demikian, ekspansi lintas negara juga membawa tantangan, mulai dari perubahan regulasi, fluktuasi permintaan, hingga volatilitas nilai tukar. Oleh karena itu, korporasi perlu memperkuat ketahanan operasional melalui diversifikasi jalur logistik, memperluas jaringan mitra, serta menerapkan scenario planning dan fleksibilitas keuangan agar tetap adaptif dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
2. Kelola Risiko Nilai Tukar dalam Bisnis Lintas Negara
Konteks bisnis lintas negara, termasuk hubungan perdagangan Indonesia–Tiongkok, DBS Group Research memperkirakan USD/IDR berada di kisaran Rp16.350 pada akhir 2026, melanjutkan tren penguatan dolar yang telah berlangsung sejak 2025. Meski Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah, tekanan eksternal tetap berpotensi memicu fluktuasi yang signifikan. Korporasi dengan eksposur impor bahan baku, utang dalam valuta asing, maupun proyek lintas negara menjadi pihak yang paling rentan terhadap risiko ini.
Dalam konteks ini, pengelolaan risiko nilai tukar tak lagi opsional. Strategi seperti hedging, natural hedge melalui pencocokan arus kas, hingga penyesuaian struktur pembiayaan berdasarkan mata uang pendapatan menjadi langkah penting untuk menjaga margin dan arus kas tetap sehat. Pendekatan yang disiplin akan membantu korporasi tetap kompetitif tanpa tergerus volatilitas pasar valuta asing.