Growthmates, penyakit jantung pada wanita masih kerap luput dari perhatian karena sejumlah mitos.
Wanita sering dianggap memiliki risiko lebih rendah, penyakit jantung hanya menyerang usia lanjut, atau tubuh ramping dan aktif berarti jantung pasti sehat. Padahal, wanita yang menjalani pola hidup sehat tetap dapat memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Gejalanya juga tidak selalu berupa nyeri dada hebat, tetapi bisa berupa sesak napas, kelelahan tidak biasa, mual, pusing, hingga nyeri pada punggung, bahu, leher, atau rahang.
“Ada sejumlah mitos seputar wanita dan penyakit jantung, dan ketidaktahuan Anda bisa membahayakan diri Anda,” tutur Dr. Binay Kumar, Direktur Kardiologi Intervensi & Elektrofisiologi, Yatharth Super Speciality Hospital, Sektor 88, Faridabad.
Dan, dikutip dari Times of India, Rabu (26/8/2026), berikut 5 mitos penyakit jantung pada wanita yang perlu diluruskan.
Mitos 1: Wanita lebih kecil kemungkinannya terkena penyakit jantung
Fakta: Wanita memang mendapat perlindungan tertentu dari hormon estrogen sebelum menopause, tetapi bukan berarti terbebas dari risiko. Setelah menopause, risiko penyakit kardiovaskular dapat meningkat seiring perubahan hormon dan pertambahan usia.
Risiko juga dapat dipengaruhi kondisi seperti tekanan darah tinggi saat kehamilan, diabetes, penyakit autoimun, dan PCOS.
Kebiasaan merokok, terutama jika disertai penggunaan kontrasepsi oral, juga dapat meningkatkan risiko pembekuan darah, stroke, dan komplikasi kardiovaskular.
Mitos 2: Penyakit jantung hanya terjadi pada usia lanjut
Fakta: Usia memang menjadi faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya.
Penyakit jantung berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun dan dapat dipengaruhi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok, kurang aktivitas fisik, serta riwayat keluarga.
“Dibutuhkan waktu puluhan tahun bagi penyakit jantung untuk berkembang, sehingga prosesnya dimulai jauh sebelum Anda mencapai usia lanjut,” jelas Dr. Kumar.
Karena itu, wanita muda tetap perlu memperhatikan faktor risikonya. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah lebih dini.
Baca Juga: Baru Mulai Olahraga? Dokter Jantung Bagikan Cara Aman agar Jantung Tidak Kaget
Mitos 3: Wanita bertubuh ramping dan bugar tidak mungkin terkena penyakit jantung
Fakta: Penampilan fisik tidak selalu mencerminkan kesehatan jantung.
Wanita bertubuh ramping tetap dapat mengalami hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Faktor genetik, merokok, pola makan tidak sehat, stres kronis, dan kurang aktivitas fisik juga dapat meningkatkan risiko.
“Menjalani gaya hidup sehat seperti rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi tentu sangat membantu. Namun, faktor risiko lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan riwayat keluarga juga memegang peranan besar,” beber Dr. Kumar.
Karena itu, tubuh yang terlihat sehat bukan alasan untuk mengabaikan pemeriksaan kesehatan.
Mitos 4: Jika tidak mengalami nyeri dada hebat, berarti tidak ada masalah jantung
Fakta: Mitos ini dapat menyebabkan keterlambatan pertolongan.
Serangan jantung pada wanita tidak selalu ditandai nyeri dada. Gejalanya dapat berupa sesak napas, kelelahan tidak biasa, mual, pusing, rasa tidak nyaman di perut, serta nyeri pada punggung, bahu, leher, atau rahang.
“Bukan berarti Anda tidak mengalami gejala, hanya saja gejalanya berbeda dari yang selama ini Anda bayangkan,” kata Dr. Kumar.
Gejala seperti sesak napas atau mual kerap dianggap sebagai kelelahan atau gangguan pencernaan. Karena itu, perubahan kondisi tubuh yang muncul tiba-tiba atau terasa tidak biasa perlu diperhatikan.
Mitos 5: Jika memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga, tidak ada yang bisa dilakukan
Fakta: Riwayat keluarga memang meningkatkan risiko, tetapi bukan berarti masa depan seseorang sudah ditentukan.
“Jangan menyerah pada riwayat keluarga Anda. Lakukan sesuatu,” tegas Dr. Kumar.
Upaya pencegahan tetap dapat dilakukan dengan mengendalikan tekanan darah, kolesterol dan gula darah, menjaga berat badan, aktif bergerak, menerapkan pola makan sehat, serta menghindari rokok.
“Seseorang mungkin memiliki profil genetik yang sangat baik, namun bisa jadi memiliki kondisi kronis lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan berat badan, atau kebiasaan merokok. Wanita pascamenopause cenderung lebih rentan terkena penyakit jantung, jadi hal-hal itulah yang perlu diperhatikan,” pungkasnya.
Baca Juga: Benarkah Telapak Tangan Berkeringat Dingin Tanda Penyakit Jantung? Begini Kata Dokter Tirta