Growthmates, di usia 95 tahun, Warren Buffett mungkin mulai memperlambat langkahnya. Namun, selama beberapa dekade, investor legendaris tersebut telah membagikan nasihat kesuksesan yang terdengar sederhana.
Tidak ada trik instan, jalan pintas, atau pernyataan bombastis tentang disrupsi dan bekerja tanpa henti (hustle). Buffett justru menekankan hal-hal mendasar yang telah terbukti berhasil dalam perjalanan hidup dan kariernya.
Nasihat tersebut juga masih relevan bagi para pendiri dan CEO yang menjalankan bisnis, mengelola tim, sekaligus berusaha mempertahankan jati diri di tengah berbagai tuntutan.
Tantangannya bukan memahami prinsip Buffett, melainkan menerapkannya. Dikutip dari Inc.com, Minggu (6/9/2026), berikut 5 kebiasaan mendasar yang menurut Buffett dapat membantu seseorang menjadi lebih sukses.
1. Singkirkan Kebiasaan Buruk
Sebagian besar pemimpin dan wirausahawan sebenarnya sudah mengetahui kebiasaan yang menghambat mereka. Namun, mengenalinya tidak selalu berarti mampu menghentikannya.
Buffett pernah menyoroti dampak pola perilaku yang merusak diri sendiri saat berbicara di hadapan para lulusan Universitas Florida.
“Saya melihat orang-orang dengan pola perilaku yang merusak diri sendiri. Mereka benar-benar terjebak oleh pola-pola tersebut,” terang Buffett.
Menurutnya, mengenali kebiasaan buruk sejak dini penting karena sebagian perilaku tersebut justru menjadi blind spot yang tidak disadari.
Dalam kepemimpinan, kebiasaan buruk bisa berupa sikap menghindar, menutup diri dari komunikasi (stonewalling), micromanagement, ketidaksabaran, kurang bertanggung jawab, hingga membiarkan standar kerja menurun.
Semakin cepat kebiasaan tersebut diatasi, semakin kecil dampaknya bagi diri sendiri, bisnis, maupun orang-orang yang dipimpin.
2. Jangan Pertaruhkan Apa yang Anda Miliki demi Sesuatu yang Tidak Anda Butuhkan
Buffett telah melihat bagaimana individu dan perusahaan mempertaruhkan stabilitas yang dimiliki demi mengejar “lebih banyak”. Tidak jarang, keputusan tersebut didorong oleh ego atau keserakahan.
Ia mengingatkan agar sesuatu yang benar-benar penting tidak dipertaruhkan demi sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.
“Jika Anda mempertaruhkan sesuatu yang penting bagi Anda demi sesuatu yang tidak penting, itu sama sekali tidak masuk akal. Saya tidak peduli apakah peluang keberhasilannya 99 banding 1 atau 1.000 banding 1,” papar Buffett.
Prinsip ini relevan bagi pendiri yang mengejar pertumbuhan terlalu cepat, pemimpin yang mengambil utang tidak perlu, maupun eksekutif yang mengorbankan budaya perusahaan demi keuntungan jangka pendek.
Peluang keberhasilan yang besar tidak selalu membuat sebuah risiko layak diambil.
Baca Juga: Warren Buffett Punya Cara Sendiri dalam Mendidik Anak, Ini Prinsipnya