Kebiasaan mengemut atau mengisap jempol merupakan perilaku yang umum ditemukan pada bayi dan anak-anak. Kebiasaan ini biasanya dilakukan untuk memberikan rasa nyaman, menenangkan diri, atau membantu anak tertidur.
Meski tergolong normal pada masa awal pertumbuhan, kebiasaan mengisap jempol yang berlangsung terlalu lama perlu mendapat perhatian orang tua. Pasalnya, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan gigi, bentuk langit-langit mulut, hingga susunan rahang anak.
Mengutip informasi dari American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) pada Jumat (06/11/2026), kebiasaan mengisap jari dengan frekuensi, intensitas, dan durasi tertentu dapat menimbulkan perubahan pada susunan gigi serta perkembangan wajah anak. Lalu, apa saja bahaya kebiasaan mengisap jempol yang perlu diwaspadai?
1. Mengubah Susunan dan Posisi Gigi Anak
Salah satu dampak yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan mengisap jempol adalah perubahan posisi gigi. Tekanan yang diberikan jempol secara terus-menerus dapat memengaruhi pertumbuhan dan susunan gigi, terutama ketika gigi permanen mulai tumbuh.
Kebiasaan mengisap jempol dengan kuat setelah anak berusia 2–4 tahun dapat memengaruhi bentuk mulut dan posisi gigi.
Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, anak berisiko mengalami gangguan susunan gigi yang memerlukan penanganan dokter gigi.
Baca Juga: 5 Tanda Anak Bakal Sukses saat Dewasa, Orang Tua Perlu Tahu!
2. Menyebabkan Gigi Depan Tonggos
Kebiasaan mengisap jempol dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan perubahan posisi gigi depan. Tekanan jempol yang berulang dapat mendorong gigi depan bagian atas ke arah luar.
Kondisi ini dikenal sebagai overjet, yaitu keadaan ketika gigi depan atas berada lebih maju dibandingkan gigi depan bawah.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa kebiasaan mengisap jempol yang berlangsung terlalu lama dapat memengaruhi kesejajaran gigi. Apabila perubahan tersebut tidak membaik setelah kebiasaan dihentikan, anak mungkin membutuhkan perawatan ortodonti untuk memperbaiki posisi giginya.
Baca Juga: Cara Mengenalkan Disabilitas kepada Anak Sejak Dini, Orang Tua Jangan Ajarkan Rasa Kasihan
3. Mengganggu Bentuk Langit-Langit Mulut
Selain memengaruhi susunan gigi, kebiasaan mengisap jempol juga berpotensi mengubah bentuk langit-langit mulut atau palatum.
Mengutip Mayo Clinic dalam artikel Thumb Sucking: Help Your Child Break the Habit, kebiasaan mengisap jempol yang berlangsung lama dapat memengaruhi bentuk langit-langit mulut.
Risiko perubahan tersebut semakin besar apabila anak mengisap jempol dengan kuat dan melakukannya secara terus-menerus. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kebiasaan anak, terutama ketika gigi permanen mulai tumbuh.
4. Menyebabkan Gigitan Terbuka (Open Bite)
Kebiasaan mengisap jempol juga dapat memicu kondisi open bite atau gigitan terbuka. Kondisi ini terjadi ketika gigi depan bagian atas dan bawah tidak dapat bertemu saat mulut dalam posisi menggigit.
Tekanan jempol yang berlangsung berulang kali dapat menghambat pertumbuhan dan posisi gigi depan sehingga terbentuk celah di antara kedua barisan gigi.
Kebiasaan mengisap jari yang berlangsung dengan intensitas dan durasi tinggi dapat menyebabkan perubahan pada hubungan gigitan atau malocclusion (maloklusi).
Baca Juga: Bukan Indonesia? Ini Negara Terbaik untuk Membesarkan Anak di Asia Tenggara 2026
5. Menimbulkan Masalah pada Kulit Jempol
Dampak kebiasaan mengisap jempol tidak hanya berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut. Kebiasaan yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi kulit jempol anak.
Kebiasaan mengisap jari dalam jangka panjang dapat menyebabkan iritasi, penebalan kulit, hingga perubahan pada kuku.
Pada kondisi tertentu, kulit yang mengalami kerusakan juga berisiko mengalami infeksi sekunder. Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi jempol anak apabila kebiasaan tersebut sulit dihentikan.
Cara Membantu Anak Menghentikan Kebiasaan Mengisap Jempol
Menghentikan kebiasaan mengisap jempol membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tepat. Orang tua sebaiknya tidak memarahi atau menghukum anak karena tindakan tersebut justru dapat membuat anak merasa tertekan.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua:
1. Berikan pujian dan penghargaan. Apresiasi anak ketika berhasil melewati waktu tertentu tanpa mengisap jempol. Cara ini dapat membantu membangun motivasi anak untuk menghentikan kebiasaannya.
2. Cari tahu penyebabnya. Perhatikan kapan anak mulai mengisap jempol, misalnya ketika mengantuk, bosan, takut, atau merasa tidak nyaman. Dengan begitu, orang tua dapat membantu mengatasi pemicunya.
3. Alihkan perhatian anak. Ajak anak melakukan aktivitas yang menyenangkan agar tangannya tetap sibuk, seperti bermain, menggambar, atau memegang mainan.
4. Berikan pengingat secara lembut. Jika anak mengisap jempol tanpa sadar, orang tua dapat mengingatkannya dengan cara yang baik tanpa memarahi atau mempermalukannya.
Baca Juga: Anak Sulit Fokus dan Mengikuti Instruksi, Kapan Perlu ke Psikolog atau Terapis Okupasi?
5. Konsultasikan dengan dokter gigi. Apabila kebiasaan sulit dihentikan atau mulai terlihat perubahan pada susunan gigi dan bentuk mulut, segera konsultasikan dengan dokter gigi anak.
Pada dasarnya, kebiasaan mengisap jempol pada bayi dan anak usia dini tidak selalu berbahaya. Namun, apabila terus berlangsung hingga anak bertambah besar, kebiasaan ini dapat memengaruhi perkembangan gigi dan mulut.
Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian dan pendampingan sejak dini agar kebiasaan tersebut tidak berlanjut dan mengganggu kesehatan anak.