Punya penghasilan besar ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi kaya. Cara berpikir dan kebiasaan dalam mengelola uang justru memiliki peran penting dalam menentukan kondisi keuangan seseorang, mulai dari mengatur pengeluaran hingga membangun aset untuk masa depan.
Tidak sedikit orang dengan pendapatan tinggi justru kesulitan mengumpulkan kekayaan karena terjebak gaya hidup konsumtif. Sebaliknya, seseorang dengan penghasilan terbatas tetap memiliki peluang untuk membangun kekayaan jika mampu mengelola uang secara disiplin dan konsisten.
Penulis buku I Will Teach You to Be Rich, Ramit Sethi, menilai pola pikir yang keliru terhadap uang kerap menjadi salah satu penghambat terbesar dalam mencapai kebebasan finansial.
Sethi, yang juga dikenal sebagai pembawa acara serial Netflix How to Get Rich, mengungkapkan ada tiga pola pikir atau mindset toksik yang sebaiknya dihindari jika seseorang ingin membangun kekayaan.
Menurutnya, menjadi kaya bukanlah proses yang bisa terjadi dalam semalam. Meski kisah seseorang mendadak kaya sering terdengar, tidak sedikit pula yang akhirnya kehilangan kekayaan tersebut dalam waktu singkat.
"Pembentukan kekayaan yang sesungguhnya membutuhkan waktu. Prosesnya membosankan, sistematis, dan dilakukan secara konsisten," kata Sethi, dikutip dari CNBC Make It pada Senin (02/11/2026).
Lantas, apa saja pola pikir soal uang yang bisa menghambat seseorang menjadi kaya?
1. Menganggap Membicarakan Uang sebagai Hal Tabu
Mindset pertama yang perlu diubah adalah anggapan bahwa uang merupakan topik sensitif yang tidak pantas dibicarakan.
Sethi menilai banyak orang tumbuh dalam keluarga yang jarang membahas persoalan keuangan secara terbuka. Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kurang memahami cara mengelola uang dengan baik.
Menurutnya, keluarga yang memiliki kebiasaan finansial sehat justru tidak ragu membicarakan uang dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasannya bisa mencakup tabungan, pengeluaran, hingga target keuangan bersama pasangan atau anggota keluarga.
"Membicarakan uang adalah hal positif. Misalnya berdiskusi soal tabungan, pengeluaran, atau tujuan keuangan bersama pasangan maupun keluarga," ujarnya.
Dengan membiasakan diskusi keuangan, setiap anggota keluarga dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi finansial dan prioritas pengeluaran.
Baca Juga: Rahasia Warren Buffett Bangun Kekayaan Sejak Kecil
2. Terus Memegang Keyakinan soal Uang dari Masa Kecil
Pola pikir kedua adalah menerima begitu saja keyakinan tentang uang yang ditanamkan sejak kecil tanpa mengevaluasinya kembali.
Dalam podcast miliknya, Sethi kerap bertanya kepada pasangan mengenai kalimat yang paling sering mereka dengar tentang uang saat tumbuh dewasa.
Salah satu jawaban yang sering muncul adalah, "Kita tidak mampu membelinya."
Baca Juga: Tak Perlu Repot Pilih Saham, Ini Saran Investasi Warren Buffett untuk Bangun Kekayaan
Menurut Sethi, kalimat yang terus didengar sejak kecil bisa membentuk keyakinan seseorang hingga dewasa. Akibatnya, meskipun sudah memiliki pekerjaan dengan penghasilan baik atau mulai berinvestasi, seseorang masih merasa bersalah ketika mengeluarkan uang untuk kebutuhan sederhana, seperti membeli secangkir kopi.
"Banyak orang tidak menyadari hubungan antara keyakinan masa kecil dan kebiasaan finansial mereka saat ini," kata Sethi.
Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar seseorang mengenali keyakinan tentang uang yang selama ini dipegang, kemudian menuliskannya dan mengevaluasi apakah pemikiran tersebut masih sesuai dengan kondisi kehidupannya sekarang.
Dengan begitu, seseorang dapat membedakan antara kebiasaan finansial yang memang perlu dipertahankan dan pola pikir lama yang justru membatasi perkembangan keuangannya.
3. Menganggap Investasi Hanya Bisa Dilakukan Orang Kaya
Mindset terakhir yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa investasi hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah memiliki banyak uang.
Sethi justru menilai investasi merupakan salah satu cara utama untuk membangun kekayaan. Seseorang tidak harus menunggu memiliki penghasilan besar atau modal dalam jumlah fantastis untuk mulai berinvestasi.
"Anda menjadi kaya dengan berinvestasi. Bahkan jika hanya bisa menyisihkan US$20 per bulan, itulah cara untuk memulai," ujarnya.
Ia menjelaskan, kebiasaan menyisihkan uang untuk investasi secara rutin dan otomatis dapat memberikan dampak terhadap kondisi keuangan seseorang maupun keluarganya dalam jangka panjang.
Meski hasilnya tidak bisa dinikmati secara instan, konsistensi menjadi kunci utama dalam proses tersebut.
Sethi mengibaratkan membangun kekayaan seperti menjaga kebugaran tubuh atau mempelajari bahasa baru. Keduanya membutuhkan latihan berulang dan kemajuan secara bertahap.
"Sedikit demi sedikit menjadi lebih baik setiap hari. Itulah inti dari membangun kekayaan," kata dia.
Sejatinya, membangun kekayaan bukan hanya soal berapa banyak uang yang diperoleh setiap bulan. Cara seseorang memandang uang, mengambil keputusan finansial, dan menjaga konsistensi juga turut menentukan hasilnya dalam jangka panjang.