Menurut Theo, kebiasaan tersebut perlu dibangun hingga seseorang merasa tidak nyaman ketika tidak berhasil menghasilkan surplus dalam satu bulan.
Bagi Theo, kondisi itu justru menjadi salah satu tanda bahwa fondasi finansial mulai terbentuk.
“Sampai satu momen, gila ya bulan ini gue gak surplus nih, gak enak ya. Itu berarti lu udah siap tambah kaya tuh,” tuturnya.
Theo menuturkan, kebiasaan memiliki surplus kemudian menjadi jembatan menuju engine ketiga, yakni investasi. Ketika seseorang sudah mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar dan terbiasa menyisakan uang, terdapat dana yang dapat dialokasikan untuk membangun aset.
“Habit surplusnya udah kebangun, allocating berarti kan ada duit nganggur yang nambah terus. Fondasi keuangan ada. Inilah masa kita mulai investasi,” ujar Theo.
Namun, Theo menekankan bahwa tujuan investasi bukan sekadar mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Lebih dari itu, investasi seharusnya menjadi bagian dari perjalanan untuk mengubah sumber penghasilan dari yang semula bergantung pada aktivitas aktif menjadi lebih pasif.
“Goalsnya bukan masalah cuan-cuanan gede-gedean, enggak. Goalsnya adalah sepanjang perjalanan ini kita ubah dari aktif jadi pasif,” jelasnya.
Lebih jauh, menurut Theo, ukuran kekayaan bukan semata-mata terlihat dari barang yang dimiliki atau seberapa mewah gaya hidup seseorang.
Kekayaan justru berkaitan erat dengan kebebasan seseorang dalam menentukan bagaimana ia menjalani hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada pekerjaan aktif.
“Lu boleh pake mobil biasa aja, tapi besok lu gak mau kerja, hidup lu tidak terikat di sana. Merdeka itu real definition of freedom,” tandas Theo.
Baca Juga: Theo Derick Ungkap Kunci Bisnis Bertumbuh: Founder Jangan Hanya Diam di Kantor