7. I Know Why the Caged Bird Sings karya Maya Angelou
Dalam karya autobiografinya, Maya Angelou menceritakan masa kecil yang penuh trauma dan diskriminasi rasial hingga akhirnya menemukan kekuatan melalui pendidikan dan sastra.
Tulisan Angelou yang puitis dan menyentuh menjadikan buku ini simbol ketahanan manusia dalam menghadapi luka dan ketidakadilan.
8. The Immortal Life of Henrietta Lacks karya Rebecca Skloot
Buku nonfiksi ini mengangkat kisah Henrietta Lacks, perempuan yang sel kankernya diambil tanpa izin dan kemudian menjadi dasar penelitian medis modern.
Rebecca Skloot tidak hanya mengupas sejarah ilmiah, tetapi juga membahas persoalan etika, rasisme, serta dampak penelitian tersebut terhadap keluarga Henrietta.
9. The Feminine Mystique karya Betty Friedan
Karya ini memicu gelombang feminisme kedua pada 1960-an dengan mempertanyakan anggapan bahwa perempuan hanya menemukan kebahagiaan melalui peran domestik.
Friedan mengajak perempuan mengejar identitas dan potensi diri di luar batasan tradisional, menjadikannya buku penting dalam sejarah gerakan perempuan.
10. Educated karya Tara Westover
Memoar ini mengisahkan Tara Westover yang tumbuh dalam keluarga tertutup di pedesaan Idaho tanpa pendidikan formal, hingga akhirnya meraih gelar doktor dari Cambridge.
Perjuangannya memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat membuka peluang sekaligus memunculkan konflik batin antara keluarga dan impian pribadi.
11. Little Women karya Louisa May Alcott
Klasik sastra ini mengikuti kehidupan empat saudari March, yakni Meg, Jo, Beth, dan Amy, yang tumbuh dewasa di tengah keterbatasan masa Perang Saudara Amerika.
Melalui perjalanan masing-masing tokoh, novel ini membahas keluarga, ambisi, cinta, dan pencarian identitas perempuan dengan cara yang hangat dan relevan hingga kini.
12. The Joy Luck Club karya Amy Tan
Novel ini mengisahkan hubungan empat ibu imigran Tionghoa dengan putri-putri mereka di Amerika, menampilkan konflik generasi, identitas budaya, dan dinamika keluarga.
Kisah yang saling terkait menunjukkan bagaimana pengalaman masa lalu membentuk hubungan ibu dan anak perempuan di masa kini.
Nah Growthmates, ke-12 buku ini menghadirkan beragam pengalaman perempuan, mencakup tentang perjuangan, keberanian, pendidikan, persahabatan, keluarga, dan pencarian jati diri.
Membaca kisah-kisah tersebut bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga membantu kita memahami kekuatan yang ada dalam diri sendiri. Karena pada akhirnya, buku yang baik tidak hanya dibaca, ia meninggalkan jejak dan mengubah cara kita memandang hidup.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Buku untuk Memulihkan Fokus dan Kreativitas di Era Internet