Teknologi Harus Menjadi Alat, Bukan Pengendali
Perkembangan teknologi digital dan AI juga menjadi perhatian khusus dalam pesannya kepada generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha.
Ibas Yudhoyono mengajak para santri untuk tidak takut terhadap perubahan teknologi, tetapi mampu menempatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan manfaat.
“Kuasi teknologi, jangan diperbudak teknologi. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan sekadar mengejar perhatian,” pesannya.
Dr. EBY juga mengingatkan generasi muda agar tetap memiliki kendali atas identitas dan arah kehidupannya di tengah kuatnya pengaruh algoritma digital.
“Algoritma boleh menentukan apa yang kita lihat, tetapi jangan biarkan algoritma menentukan siapa diri kita. Karakter, nilai, dan imanlah yang harus menentukan arah hidup kita,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan di era teknologi bukan semata-mata menghasilkan manusia yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi membentuk manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Nilai Gontor Dibawa Sepanjang Hayat
Kepada para alumni Gontor, Wakil Ketua MPR RI tersebut berpesan agar nilai-nilai yang diperoleh selama berada di pondok tetap menjadi bagian dari kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Ia menggambarkan bahwa keberadaan Gontor tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan lingkungan pondok.
“Ketika alumni menjadi guru yang ikhlas, Gontor hadir. Ketika alumni menjadi pengusaha yang jujur, Gontor hadir. Ketika alumni menjadi pemimpin yang amanah, Gontor hadir,” tuturnya.
Menurutnya, pondok bukan hanya tempat yang pernah ditinggali, melainkan nilai yang dibawa sepanjang kehidupan.
Pesan tersebut sejalan dengan tema peringatan 100 tahun Gontor, “Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama.”
Edhie Baskoro menilai tema tersebut menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong umat untuk membangun kehidupan yang berilmu, berkeadilan, berakhlak, menghargai perbedaan, serta memberikan manfaat bagi sesama.
“Peradaban utama bukan sekadar bangunan yang tinggi dan bukan sekadar teknologi yang canggih. Tetapi manusia yang tinggi ilmunya, mulia akhlaknya, dan besar manfaatnya,” ujarnya.
Abad Kedua Gontor
Memasuki satu abad berikutnya, ia menyebut tantangan Gontor bukan semakin ringan. Dunia yang terus berubah menuntut pendidikan yang mampu menjaga akar nilai sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“100 tahun pertama adalah sejarah. 100 tahun berikutnya adalah tanggung jawab,” tegasnya.
EBY berharap Gontor terus melahirkan generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
Menurutnya, masa depan membutuhkan generasi yang mampu membangun peradaban modern tanpa kehilangan akhlak dan kemanusiaan.
“Peradaban yang maju, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam. Peradaban yang modern, tetapi tetap menjunjung akhlak. Peradaban yang menguasai teknologi, tetapi tidak kehilangan kemanusiaan,” katanya.
Wakil Ketua MPR RI tersebut juga menyampaikan ucapan selamat atas satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Ia berharap Gontor terus menghadirkan nilai-nilai Islam, melahirkan generasi berilmu dan berakhlak, serta memberikan kontribusi bagi pembangunan peradaban Indonesia dan dunia.
Khusus kepada para santri, ia menitipkan pesan agar berani memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu dan teknologi, memahami dunia, namun tetap menjaga adab.
“Bermimpilah besar. Kuasai dunia. Gunakan teknologi. Tetapi jangan pernah kehilangan adab,” pesannya.
EBY menutup dengan optimisme bahwa setelah 100 tahun mengabdi, mendidik, dan menginspirasi, Gontor akan terus menjalankan perannya dalam menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban utama pada satu abad berikutnya.