Growthmates, tren perawatan kulit terus bermunculan di media sosial. Hampir setiap beberapa bulan, ada saja trik baru yang disebut mampu membuat kulit lebih cerah, mulus, atau bebas jerawat dalam waktu singkat.

Mulai dari menggunakan es batu untuk mengecilkan pori-pori, mengoleskan bahan dari dapur ke wajah, hingga menumpuk berbagai produk aktif dalam satu rutinitas.

Di media sosial, trik tersebut mungkin terlihat menarik dan memberikan hasil instan. Namun, apa yang terlihat meyakinkan di layar belum tentu aman untuk kulit.

Sejumlah dokter kulit bahkan kerap menemukan pasien yang mengalami ruam, iritasi, jerawat yang semakin parah, hingga kulit menjadi jauh lebih sensitif setelah mencoba tren perawatan yang sedang viral.

Dikutip dari Times of India, Selasa (18/8/2026), Dr. Ashok Patel, Dokter Bedah Estetika sekaligus Pendiri Brilliance Cosmocare, membagikan 10 tren perawatan kulit yang sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.

1. Melakukan Chemical Peel Sendiri di Rumah

Internet kerap menjadikan bahan-bahan yang tersedia di dapur sebagai alternatif perawatan kulit, termasuk air lemon, soda kue, dan cuka apel yang digunakan sebagai pengelupas kulit.

Masalahnya, bahan-bahan tersebut memiliki konsentrasi dan tingkat keasaman atau pH yang tidak dirancang untuk kebutuhan kulit wajah. Berbeda dengan prosedur chemical peel profesional yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan dilakukan dengan pemantauan.

Alih-alih mendapatkan kulit mulus seperti glass skin, penggunaan bahan yang tidak tepat justru dapat menyebabkan luka bakar, iritasi, pigmentasi, bahkan bekas luka.

2. Menumpuk Terlalu Banyak Bahan Aktif

Rutinitas skincare dengan banyak bahan aktif mungkin terlihat efektif dalam video singkat. Retinol, vitamin C, AHA, niacinamide, hingga berbagai jenis hydroxy acid digunakan sekaligus demi mendapatkan hasil maksimal.

Padahal, kulit tidak selalu membutuhkan sebanyak mungkin bahan aktif. Yang lebih penting adalah memilih kandungan sesuai kebutuhan kulit dan memperkenalkannya secara bertahap.

Penggunaan bahan aktif secara berlebihan dapat menyebabkan kemerahan, pengelupasan, rasa perih, hingga kerusakan skin barrier.

Ketika lapisan pelindung kulit terganggu, pemulihannya pun bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu.

3. Lebih Memercayai Filter daripada Kondisi Kulit Sebenarnya

Filter kecantikan di media sosial secara tidak langsung ikut mengubah persepsi mengenai seperti apa kulit yang dianggap ideal.

Pori-pori dibuat seolah tidak terlihat, tekstur kulit dihilangkan, dan berbagai ketidaksempurnaan alami disamarkan. Akibatnya, sebagian orang mulai menganggap fitur kulit normal sebagai masalah yang harus diperbaiki.

Padahal, pori-pori, tekstur, dan garis halus merupakan bagian alami dari kulit manusia. Karena itu, penting untuk membedakan kondisi kulit yang memang membutuhkan penanganan dengan ekspektasi yang terbentuk akibat filter digital.

4. Mengandalkan Produk yang Mengandung SPF dan Melewatkan Tabir Surya

Tinted moisturizer, foundation, maupun bedak tertentu memang dapat mencantumkan SPF pada kemasannya. Namun, mengandalkan produk tersebut sebagai satu-satunya perlindungan dari sinar matahari bukanlah kebiasaan yang ideal.

Salah satu alasannya adalah jumlah produk yang digunakan sehari-hari biasanya jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah yang digunakan dalam pengujian laboratorium untuk mendapatkan angka SPF tersebut.

Paparan sinar matahari yang tidak terlindungi mungkin tidak langsung menunjukkan dampaknya. Namun, dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah pigmentasi dan tanda-tanda penuaan kulit.

Baca Juga: Jangan Asal Pakai Skincare, Ini Panduan Perawatan Kulit Berdasarkan Usia dari Remaja hingga 50 Tahun ke Atas

5. Terlalu Sering Menggunakan Es pada Wajah

Menggosokkan es batu ke wajah sering dianggap dapat mengecilkan pori-pori dan membuat wajah tampak lebih kencang.

Menurut Dr. Patel, efek tersebut sebenarnya lebih bersifat sementara. Pori-pori tidak memiliki otot yang dapat berkontraksi. Suhu dingin hanya membuat jaringan di sekitar kulit dan pembuluh darah kecil mengalami perubahan sementara sehingga pori-pori dapat terlihat lebih samar.

Kompres dingin sesekali mungkin dapat membantu memberikan sensasi nyaman atau mengurangi pembengkakan.

Namun, menjadikan es sebagai ritual perawatan wajah setiap hari tidak diperlukan, terutama bagi pemilik kulit sensitif atau kulit yang sedang mengalami iritasi.

6. Meniru Rutinitas Skincare Orang Lain Mentah-mentah

Rutinitas skincare 10 langkah milik teman atau influencer mungkin terlihat menarik untuk dicoba. Namun, kondisi kulit setiap orang berbeda.

Seseorang mungkin memiliki kulit berminyak, sementara orang lain memiliki kulit kering atau sensitif. Bahkan, produk yang membantu mengatasi jerawat pada satu orang belum tentu memberikan efek serupa pada orang lain.

Dalam kondisi tertentu, produk yang tidak sesuai justru dapat memicu iritasi atau memperburuk masalah kulit seperti rosacea.

Karena itu, rutinitas skincare sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kulit, bukan sekadar mengikuti produk yang sedang populer.

7. Menganggap Semua Bercak Merah sebagai Jerawat

Tidak semua benjolan atau bercak merah di wajah merupakan jerawat.

Masalah tersebut dapat memiliki berbagai penyebab, mulai dari iritasi, kondisi hormonal, hingga masalah kulit lainnya.

Menggunakan benzoyl peroxide atau asam salisilat dengan konsentrasi tinggi tanpa mengetahui penyebabnya justru dapat membuat kulit semakin teriritasi.

Jika kondisi kulit tidak kunjung membaik atau justru memburuk setelah menggunakan produk tertentu, diagnosis yang tepat menjadi langkah penting sebelum menambah atau mengganti bahan aktif.

8. Menganggap Bahan Alami Pasti Aman

Label 'alami' sering kali membuat suatu bahan dianggap lebih aman dibandingkan produk yang dibuat melalui formulasi laboratorium.

Padahal, bahan alami tetap dapat menyebabkan iritasi maupun reaksi alergi. Minyak esensial, madu mentah, hingga pasta bawang putih, misalnya, tidak otomatis aman hanya karena berasal dari bahan yang ditemukan di alam.

Terlebih ketika kulit sedang mengalami peradangan atau skin barrier sedang rusak, bahan tertentu dapat memperburuk kondisi.

Karena itu, 'alami' tidak selalu berarti 'aman'. Yang lebih penting adalah mengetahui kandungan, konsentrasi, cara penggunaan, serta kecocokannya dengan kondisi kulit.

9. Membeli Perawatan Hanya Berdasarkan Foto Before-After

Foto before-after sering menjadi pertimbangan utama ketika seseorang memilih produk atau prosedur kecantikan. Namun, foto tersebut tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai efektivitas suatu perawatan.

Perbedaan pencahayaan, sudut pengambilan gambar, kamera, jenis kulit, produk lain yang digunakan, hingga durasi perawatan dapat memengaruhi hasil visual.

Karena itu, hasil yang terlihat pada orang lain belum tentu dapat direplikasi pada setiap orang.

Perawatan seharusnya dipilih berdasarkan kondisi kulit, tujuan, keamanan, serta kemampuan masing-masing, bukan hanya karena melihat transformasi dalam sebuah foto.

10. Mencari Solusi Instan Menjelang Acara

Menjelang pernikahan, festival, atau acara penting, pencarian mengenai cara memperbaiki kondisi kulit dalam hitungan hari biasanya meningkat.

Keinginan mendapatkan kulit yang terlihat lebih baik dengan cepat memang wajar. Namun, melakukan perawatan drastis dalam waktu singkat justru dapat menimbulkan masalah baru, seperti iritasi, kemerahan, atau reaksi alergi.

Kesehatan kulit lebih menyerupai konsep compound interest. Hasilnya dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten selama berbulan-bulan, bukan melalui satu perawatan ekstrem yang dilakukan beberapa hari sebelum acara.

Baca Juga: Sebelum Skincare Modern, Ini 5 Rahasia Kulit Glowing Wanita Korea di Era Kerajaan Joseon