6. Risiko Adalah Harga Perubahan

Dari roket yang dapat digunakan kembali hingga kendaraan listrik massal, Musk berkali-kali mengambil risiko yang nyaris membuatnya bangkrut.

Namun justru dari keberanian itulah lahir perubahan industri. Inovasi besar jarang datang dari keputusan yang aman.

7. Rasa Ingin Tahu Sebagai Disiplin

Keingintahuan Musk bukan sekadar minat sesaat. Ia mempelajari fisika, manufaktur, hingga perangkat lunak secara mendalam.

Isaacson menunjukkan bahwa rasa ingin tahu adalah kebiasaan yang dipelihara, bukan bakat semata.

Ketika Anda cukup lama ingin tahu, Anda mulai melihat pola yang terlewat oleh orang lain.

8. Intensitas Selalu Memiliki Harga

Kecepatan kerja yang ekstrem membawa konsekuensi pribadi: hubungan yang renggang, kurang tidur, dan sorotan publik tanpa henti. Isaacson tidak menyederhanakan sisi ini.

Ia menunjukkan bahwa pencapaian besar sering menuntut pengorbanan besar. 

9. Kegagalan Adalah Data

Roket yang meledak, target produksi yang meleset, hingga kontroversi publik, semuanya tercatat dalam buku ini.

Namun, respons Musk konsisten, yakni kegagalan diperlakukan sebagai informasi. Setiap kesalahan menjadi bahan evaluasi, bukan akhir perjalanan.

10. Kehebatan dan Ketidaksempurnaan Bisa Hidup Berdampingan

Mungkin pelajaran paling penting adalah menerima kompleksitas. Isaacson menggambarkan Musk sebagai sosok yang brilian sekaligus impulsif, visioner sekaligus tak terduga.

Keberhasilan dan kontroversinya lahir dari sumber yang sama, yaitu intensitas dan dorongan tanpa henti. Buku ini mengajak pembaca melihat tokoh besar sebagai manusia utuh, bukan sebagai karikatur hitam-putih.

Pada akhirnya, Elon Musk bukan sekadar kisah tentang teknologi atau bisnis. Ini adalah refleksi tentang ambisi, daya tahan, dan harga yang harus dibayar untuk mendorong batas kemungkinan.

Baca Juga: 10 Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Buku 'How We Learn' Karya Stanislas Dehaene