Ia kemudian menggambarkan besarnya kesenjangan tersebut melalui perbandingan waktu yang dibutuhkan masyarakat rata-rata untuk mengumpulkan kekayaan setara dengan salah satu orang terkaya di Indonesia.

“Rata-rata orang Indonesia, kalau mau menjadi sekaya Prabowo, itu butuh menabung 2 abad,” kata Zainal.

Lebih jauh, Zainal juga mempertanyakan sumber kekayaan Presiden RI, Prabowo Subianto dengan mengaitkannya pada sektor pertambangan dan sumber daya alam.

“Prabowo kaya dari mana? Tambang. Dari hutan. Yang itu punya kita bersama,” ujarnya.

Zainal menegaskan bahwa perbandingan tersebut digunakan untuk menggambarkan persoalan ketimpangan yang menurutnya tidak cukup dibaca hanya melalui angka pertumbuhan ekonomi atau indikator statistik lainnya.

“Nah, apa yang saya mau bilang bahwa politik angka itu sering menipu,” katanya.

Menurut dia, berbagai data mengenai kondisi ekonomi semestinya dapat mendorong negara untuk melakukan pembenahan, terutama ketika angka-angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang besar di tengah masyarakat.

“Maksud saya adalah memang ada realitas yang harusnya membangkitkan kesadaran negara untuk melakukan pembenahan,” tukas Zainal.

Ia menilai, ketika pembenahan tersebut tidak kunjung dilakukan, masyarakat dapat mencari berbagai cara untuk mendorong perubahan dan menyuarakan persoalan ketimpangan yang ada.

“Dan ketika negara tidak kunjung melakukan pembenahan, model-model panggilan berjamaah gaya Reset Indonesia ini menjadi penting,” tutur Zainal.

Baca Juga: Mengenal Sosok Zainal Arifin Mochtar, Intip Sepak Terjang Pakar Hukum Tata Negara dari Kampus Biru