Kekayaan wastra Nusantara semakin mendapat tempat dalam perkembangan industri modest fashion Indonesia. Beragam kain tradisional dari berbagai daerah kini tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga diolah menjadi karya fesyen modern yang berpeluang menembus pasar internasional.

Potensi tersebut terlihat dalam gelaran Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST) X Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 yang menghadirkan karya lebih dari 250 desainer dan jenama. Melalui rangkaian peragaan busana dan trade show, berbagai kreasi berbasis wastra dari sejumlah daerah Indonesia diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.

Mengusung tema "Indonesia's Integrated Modest Fashion Ecosystem: Transforming Modest Fashion Brands into Global Business", perhelatan ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas desainer, tetapi juga wadah untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia melalui modest fashion.

Baca Juga: Tak Cuma Peragaan Busana, IN2MOTIONFEST X JMFW Buka Peluang Ekspor Modest Fashion Indonesia

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan karya pelaku usaha binaan Bank Indonesia dan anggota Industri Kreatif Syariah (IKRA) dari berbagai wilayah. Sejak 2018, Bank Indonesia menginisiasi program IKRA untuk mendorong pengembangan sektor modest fashion sebagai bagian dari penguatan ekonomi syariah nasional.

Melalui dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di berbagai daerah, para perajin wastra dan pelaku usaha fesyen mendapatkan pembinaan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas akses pasar.

Dari Batik hingga Tenun, Karya Daerah Hadir di Panggung Nasional

Keberagaman wastra Indonesia menjadi salah satu daya tarik dalam IN2MOTIONFEST X JMFW 2026. Berbagai daerah membawa karakter kain tradisional masing-masing melalui karya desainer dan jenama lokal.

Dari Sumatera, misalnya, terdapat Tenun Kutaraja dari Aceh, Kyan Ulos dari Sumatera Utara, Mojao.Art dari Sumatera Barat, hingga Sepiak dari Kepulauan Bangka Belitung. Sumatera Selatan juga menghadirkan sejumlah jenama, termasuk Adis Karim by Rumah Songket Adis dan Eka Madjid.

Sementara itu, wilayah Jawa menampilkan ragam karya berbasis batik, bordir, dan tekstil lokal. Beberapa di antaranya adalah Batik Chic dan Roemah Kebaya Vielga dari Jakarta, Dewi Sambi Heritage dari Banten, Bina Bordir dari Tasikmalaya, serta Batik Martadireja dari Purwokerto.

Baca Juga: 200 Desainer Unjuk Karya di IN2MOTIONFEST X JMFW 2026, Intip Arah Tren Modest Fesyen 2027/2028

Kekayaan tekstil daerah lainnya juga hadir dari berbagai wilayah Indonesia. Kalimantan Selatan membawa Alina Sasirangan dan Fahmi Sasirangan, sedangkan Sulawesi Tenggara menghadirkan Lily Tenun Gallery.

Dari kawasan Indonesia Timur, terdapat Padu Padan Tenun by Erwin Yuan dan Gabys Collection dari Nusa Tenggara Timur, serta Puta Dino Kayangan dari Maluku Utara dan Kasuari Batik dari Papua Barat.

Keberagaman tersebut memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat menjadi elemen penting dalam pengembangan modest fashion. Melalui sentuhan desain yang lebih modern, wastra tidak hanya dipertahankan sebagai produk budaya, tetapi juga memiliki peluang untuk menjangkau konsumen dengan selera fesyen yang semakin beragam.

Desainer Nasional Padukan Kreativitas dengan Wastra Lokal

Selain menghadirkan karya pelaku UMKM dari berbagai daerah, IN2MOTIONFEST X JMFW 2026 juga melibatkan sejumlah desainer nasional yang mengolah wastra menjadi koleksi modest fashion.

Tiga desainer yang tergabung dalam Dewan IKRA, yakni Ali Charisma, Itang Yunasz, dan Wignyo, turut memperkenalkan karya terbaru dengan sentuhan kain tradisional Indonesia.

Deretan desainer lainnya yang menampilkan rancangan berbasis wastra antara lain Deden Siswanto, Ayu Dyah Andari, Fomalhaut Zamel, Adrie Basuki, Khanaan, Restu Anggraini, Neera Alatas, Asky Febrianty, Nina Nugroho, dan Dian Pelangi.

Panggung ini juga menampilkan karya para pemenang kompetisi desain busana berbasis wastra lokal dalam Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Bank Indonesia 2026. Kompetisi yang diselenggarakan di tiga wilayah, yakni Sumatera, Jawa, dan Indonesia Bagian Timur, tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong kreativitas desainer dalam mengembangkan tekstil lokal.

Keterlibatan desainer dengan latar belakang dan karakter desain yang beragam memberikan ruang bagi wastra untuk dieksplorasi melalui berbagai pendekatan, mulai dari busana siap pakai hingga rancangan yang lebih eksperimental.

Desainer dari 10 Negara Ikut Angkat Wastra Indonesia

Tidak hanya menjadi ruang kolaborasi bagi desainer dalam negeri, IN2MOTIONFEST X JMFW 2026 juga memperluas jejaring modest fashion melalui kehadiran desainer dari 10 negara.

Sejumlah desainer internasional memperkenalkan koleksi mereka dengan memadukan kreativitas masing-masing bersama wastra dan produk jenama Indonesia. Kolaborasi ini menjadi salah satu cara untuk mempertemukan karakter fesyen global dengan kekayaan tekstil Nusantara.

Joulia Couture dari Dubai, Uni Emirat Arab, Erika Chung dari Taiwan, Suzani by Kasimbaeva dari Uzbekistan, Phenomenon Seeper dari Korea Selatan, serta Ziya Kocaturk dari Turki berkolaborasi menggunakan hijab dari NBRS.

Sementara itu, Erkan Demiroglu dari Turki dan Jimmy Wong dari Malaysia memadukan koleksi mereka dengan hijab dari BYLILU. F-Statement by Ellah Ungkakay dari Filipina juga berkolaborasi dengan jenama hijab Kisera.

Baca Juga: Keren! Indonesia Mantap Jadi Global Modest Fashion Sourcing Hub Lewat Sinergi IN2MOTIONFEST dan JMFW

Eksplorasi wastra Indonesia turut terlihat dalam karya desainer internasional. Khanijo dari India menghadirkan kreasi menggunakan Tenun Gedogan Baduy, sedangkan Variante dari Malaysia memanfaatkan wastra dari Griya Kain Tuan Kentang.

Kolaborasi lintas negara tersebut memperlihatkan peluang wastra Indonesia untuk hadir dalam interpretasi desain yang lebih beragam sekaligus memperluas eksposurnya di pasar internasional.

Perkuat Peluang Wastra Indonesia di Pasar Global

Pengembangan modest fashion berbasis wastra tidak berhenti pada peragaan busana. IN2MOTIONFEST X JMFW juga menghadirkan sejumlah program untuk memperkuat kesiapan pelaku industri dalam mengembangkan bisnis.

Beberapa di antaranya meliputi pameran dengan pembagian zona, Wastra Business Matching, serta program buyer yang diarahkan untuk membuka akses ke pasar wholesale dan ritel global.

Selain itu, terdapat Seminar Indonesian Modest Fashion Trend Forecasting 2027/2028, masterclass, workshop, serta Industry Forum & Summit. Berbagai kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pelaku industri, kualitas produk, hingga kesiapan manufaktur dalam skala yang lebih besar.

Melalui perpaduan kreativitas desainer, kekayaan wastra daerah, dan kolaborasi internasional, modest fashion Indonesia memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh. Tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga menjadikan kain tradisional Nusantara sebagai salah satu keunggulan produk fesyen Indonesia di pasar global.