Kasus penipuan berkedok kegiatan sukarelawan (volunteer) dan lowongan pekerjaan kembali marak dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Modus ini secara khusus menyasar anak muda dengan iming-iming kegiatan sosial dan peluang kerja, terutama menjelang bulan suci Ramadan.
Pelaku penipuan umumnya menyebarkan formulir pendaftaran daring melalui Google Form yang mewajibkan calon peserta mengisi data pribadi sensitif. Data yang diminta antara lain Nomor Induk Kependudukan (NIK) sesuai KTP serta nomor telepon anggota keluarga inti, yang disebut sebagai persyaratan wajib. Pola ini memicu kecurigaan karena tidak lazim dalam proses rekrutmen volunteer maupun pekerjaan resmi.
Baca Juga: Marak Penipuan Lowongan Kerja Admin Perusahaan di Indonesia, SEEK Perketat Pengawasan
Salah satu calon panitia volunteer, Putri, mengaku hampir mengisi formulir pendaftaran kegiatan volunteer Ramadan pada 19 Januari 2026. Ia menemukan informasi kegiatan tersebut melalui media sosial Instagram, dengan lokasi kegiatan di wilayah Depok.
Namun, Putri memutuskan untuk tidak melanjutkan pendaftaran setelah menemukan sejumlah kejanggalan dalam proses pengumpulan data. Menurutnya, permintaan data yang terlalu detail dan sensitif tidak sesuai dengan pengalaman volunteer yang selama ini ia jalani.
“Selama empat tahun mengikuti kegiatan volunteer, saya tidak pernah diminta mengisi NIK KTP atau nomor telepon orang tua beserta keterangannya. Bahkan di Threads, banyak orang yang berpikiran sama. Ini mencurigakan, karena volunteernya gratis dan tidak ada fee, tapi justru meminta data sensitif,” ujar Putri kepada Olenka (20/01/2026).
Baca Juga: 10 Tips Keamanan Siber Agar Perempuan Terhindar dari Penipuan Online dan Scam
Selain berkedok kegiatan sukarelawan, modus penipuan juga dilakukan dengan mengatasnamakan lowongan pekerjaan dari perusahaan besar. Dalam kasus ini, pelaku bukanlah pihak resmi perusahaan yang bersangkutan, melainkan oknum yang mencatut nama dan identitas perusahaan ternama.
Selain itu, salah satu korban yang hampir terjerat penipuan tersebut adalah Puspita. Ia mengungkapkan sempat mengikuti proses rekrutmen sebelum akhirnya menyadari adanya indikasi penipuan.
“Saya mengisi Google Form yang meminta nama ibu kandung dan NIK pribadi. Setelah itu, saya dimasukkan ke dalam grup rekrutmen, lalu admin meminta transfer uang untuk bisa lanjut ke tahap seleksi berikutnya. Dari situ saya langsung curiga, karena perusahaan resmi tidak pernah memungut biaya apa pun,” kata Puspita dalam kesempatan wawancara dengan Olenka.
Baca Juga: Awas Penipuan, Ini 5 Tips Aman Belanja Online saat Ramadan!
Puspita menambahkan, kejadian tersebut berlangsung pada 6 Januari 2026. Saat itu, jumlah anggota grup rekrutmen mencapai 434 orang, meski hanya puluhan yang diketahui telah melakukan transfer kepada admin.
Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih waspada dalam mengikuti pendaftaran volunteer maupun lowongan pekerjaan secara daring.
“Masyarakat perlu lebih berhati-hati, terutama jika diminta data pribadi seperti NIK KTP dan nama ibu kandung. Pastikan penyelenggara atau perusahaan benar-benar terpercaya agar data tidak disalahgunakan. Niat baik itu penting, tetapi keamanan data pribadi juga harus diutamakan,” tutupnya.