Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di dunia. Selama puluhan tahun, ia berhasil membangun kekayaan dalam jumlah luar biasa besar melalui strategi investasi jangka panjang.
Namun, di balik kesuksesan finansialnya, Buffett justru memiliki pandangan yang cukup sederhana mengenai hubungan antara uang dan kebahagiaan.
Menurut Buffett, memiliki lebih banyak uang tidak otomatis membuat seseorang jauh lebih bahagia. Ia bahkan pernah mengenang masa ketika dirinya merasa sangat bahagia meski kekayaan yang dimiliki saat itu masih relatif kecil.
Dalam wawancara dengan Becky Quick di CNBC Squawk Box, Buffett mengingat kembali kondisi keuangannya setelah menyelesaikan pendidikan. Saat itu, ia mengatakan dirinya tidak merasa tidak bahagia meski hanya memiliki sekitar US$10.000.
Pandangan tersebut kemudian menjadi salah satu pesan penting Buffett mengenai bagaimana seseorang seharusnya memandang kekayaan.
Menurutnya, jika kebahagiaan terus dikaitkan dengan pencapaian finansial tertentu, seseorang justru dapat terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah berakhir.
Buffett menggambarkan situasinya secara sederhana. Ketika seseorang memiliki US$100.000, ia mungkin merasa akan lebih bahagia jika berhasil mengumpulkan US$1 juta.
Namun, setelah mencapai angka tersebut, perhatian bisa kembali tertuju kepada orang lain yang memiliki US$2 juta.
Karena itu, Buffett mengatakan, ‘Anda tidak akan menjadi jauh lebih bahagia jika melipatgandakan kekayaan bersih Anda;.
Alih-alih menunggu sampai menjadi kaya untuk menikmati kehidupan, ia menyarankan, "Bersenang-senanglah sembari Anda menjadi kaya.
Pesan tersebut bukan berarti Buffett menganggap uang tidak penting. Sebaliknya, ia memahami betul manfaat dari keamanan finansial dan pentingnya membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Yang ia soroti adalah kecenderungan manusia untuk menjadikan angka kekayaan sebagai ukuran utama kebahagiaan.
Ketika kebahagiaan ditempatkan pada target finansial berikutnya, target tersebut dapat terus bergeser. Kekayaan yang sebelumnya dianggap sudah cukup mungkin terasa kurang ketika seseorang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki lebih banyak.
Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata mengenai berapa banyak uang yang dimiliki, melainkan keyakinan bahwa kebahagiaan baru akan datang setelah mencapai jumlah tertentu.
Baca Juga: 7 Cara Meningkatkan Kebiasaan Membaca ala Warren Buffett
Menikmati Proses, Bukan Menunggu Tujuan Akhir
Filosofi Buffett tersebut relevan bagi siapa saja yang sedang membangun kehidupan finansial. Menabung, berinvestasi, mengembangkan karier, dan meningkatkan pendapatan merupakan proses yang membutuhkan waktu.
Jika seseorang terus menunda kebahagiaan sampai memiliki gaji tertentu, portofolio investasi tertentu, atau kekayaan bersih tertentu, kehidupan sehari-hari bisa berubah menjadi sekadar penantian menuju sebuah angka.
Padahal, membangun kekayaan dan menikmati kehidupan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Pesan Buffett justru mengajak seseorang untuk menjalankan keduanya secara bersamaan. Seseorang tetap dapat disiplin menabung dan berinvestasi, tetapi pada saat yang sama tetap memberikan ruang untuk menikmati waktu bersama keluarga, melakukan hobi, bepergian, atau sekadar menikmati kehidupan yang sedang dijalani.
Prinsip tersebut juga sejalan dengan gaya investasi Buffett yang dikenal berorientasi jangka panjang. Ia memulai perjalanan investasinya sejak usia muda dan kemudian memperdalam pemahamannya mengenai investasi value, termasuk melalui Benjamin Graham di Columbia University.
Strateginya tidak berpusat pada keuntungan instan. Buffett dikenal memilih bisnis yang memiliki fundamental kuat dan mempertahankannya dalam jangka panjang. Kesabaran menjadi salah satu karakter utama dalam pendekatan investasinya.
Transformasi Berkshire Hathaway menjadi salah satu contoh paling terkenal. Buffett mengambil alih perusahaan tersebut pada 1960-an ketika bisnis tekstilnya tengah menghadapi kesulitan.
Dalam perjalanan panjang berikutnya, Berkshire Hathaway berkembang menjadi konglomerasi besar dengan kepemilikan bisnis dan investasi di berbagai sektor.
Meski kekayaannya kini mencapai sekitar US$147,6 miliar menurut Forbes, filosofi Buffett menunjukkan bahwa akumulasi kekayaan bukanlah satu-satunya tujuan hidup. Ia justru mengingatkan bahwa seseorang tidak perlu menunggu sampai mencapai tingkat kekayaan tertentu untuk merasa bahagia.
Sebagai sosok yang dikenal dengan julukan "Oracle of Omaha", Buffett memiliki pengalaman panjang dalam membangun kekayaan. Namun, pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa angka yang lebih besar tidak selalu memberikan kepuasan yang lebih besar.
Jika seseorang terus membandingkan dirinya dengan mereka yang memiliki lebih banyak, kekayaan berapa pun bisa terasa belum cukup.
Sebaliknya, ketika seseorang mampu menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap membangun masa depan, perjalanan finansial dapat terasa lebih sehat dan bermakna.
Baca Juga: 3 Tips Investasi Warren Buffett untuk Mengoptimalkan Return Portofolio